“Work Smarter”

Beberapa waktu yang lalu, kita menilai kesuksesan seseorang itu diperoleh dari kerasnya ia bekerja yang ditandai dengan lamanya jam kerja yang dijalaninya. Apakah hal yang sama masih bisa diberlakukan saat ini?

Kita kerap melihat lampu-lampu menyala di gedung-gedung sepanjang Sudirman dan area perkantoran lain sampai jauh tengah malam. Di sebuah bank terbesar, bahkan, ada semacam budaya pulang tengah malam yang tidak bisa dihindari. Karyawan enggan pulang tepat waktu karena khawatir dinilai kurang berkontribusi bagi perusahaan. Seolah-olah kinerja hanya diukur dari jam kerja dan sepertinya pekerjaan tidak bisa diselesaikan dalam 8 jam sehari.

Sementara saat ini, artificial intelligence di dalam mesin-mesin canggih mulai menggantikan pekerjaan kita. Kerja keras kita, jam kerja yang panjang, bisa jadi tidak banyak gunanya lagi. Banyak pekerjaan kita yang memakan waktu panjang akan digantikan mesin. Untuk itu, kita perlu mempelajari ulang cara kerja kita, apa yang perlu kita mesinkan, dan apa yang perlu kita kembangkan agar lebih efisien.

Apakah pekerjaan benar-benar menuntut kita untuk bekerja sampai tengah malam? Kenyataan yang kita hadapi, mesin-mesin pintar ini semakin pintar. Ia bahkan bisa mengenali kebiasaan-kebiasaan kita. Ini bisa kita buktikan dari iklan-iklan yang muncul di mesin pencari kita, yang seolah-olah begitu memahami kita dan memunculkan hal-hal yang menarik minat kita. Mesin pintar itu seakan bisa membaca preferensi kita dan memberikan saran yang kita butuhkan.

Di sinilah kita ditantang untuk menjawab pertanyaan: bagaimana pekerjaan kita pada masa mendatang? Apa saja yang harus kita kembangkan pada masa mendatang sehingga tetap bisa menguasai lingkungan, berdampingan dengan mesin-mesin pintar ini tanpa perlu merasa terancam dengan kecanggihannya? Bagaimana kita bisa lebih memanfaatkan kekuatan manusiawi dan tetap bertahan untuk berkarya.

Kita tidak akan melupakan sesuatu

Mungkin kita sekarang merasa susah untuk mengingat hal-hal kecil. Dahulu, kita bisa mengingat semua nomor telepon sanak saudara dan teman dekat. Sekarang, semua data tersimpan dalam ponsel dan komputer kita. Demikian pula semua data yang terkait dengan pekerjaan. Jadi, dengan data disimpan di luar otak kita, apakah artinya kita bertambah bodoh dan pelupa? Apakah daya ingat kita sekarang menjadi terbatas atau otak kita bisa difungsikan untuk keperluan lain?

Tajamkan pertanyaan Anda

Kita mungkin berpendapat bahwa bertanya adalah domainnya anak-anak. Sebagai orang dewasa, kita merasa yang lebih penting adalah bagaimana menjawab pertanyaan, seperti halnya bila kita sedang ujian. Mindset seperti inilah yang perlu kita ubah. Banyak orang yang tidak terlatih untuk bertanya, di mana kemampuan ini memang membutuhkan banyak kapasitas berpikir, seperti berpikir kritis, berpikir kreatif, dan inovatif.

Mesin pintar yang semakin lama semakin canggih ini sebenarnya hanya melakukan hal yang kita minta, sejauh data yang memang sudah dimilikinya dengan sistem yang kita buat sendiri. Namun, bisakah ia going extra miles, memberikan lebih dari yang kita minta? Bila kita tidak melakukan inquiry, komputer hanyalah sebuah mesin berisikan seonggok data yang tidak membantu. Dalam memecahkan masalah, berpikir kreatif dalam menciptakan inovasi baru, inquiry-lah yang memegang peranan. Bila tidak mampu mengajukan pertanyaan yang tepat, kita pun tidak bisa menemukan hal baru.

Dalam ilmu “design thinking” yang sering digunakan oleh para disruptor, empati dan inquiry ke para user atau calon user sangatlah penting. Dengan mengajukan pertanyaan yang tepat, kita bisa menggali apa yang benar-benar diinginkan oleh para user, yang bahkan mungkin tidak mereka sadari sebelumnya. Hal ini tidak bisa dilakukan komputer. Komputer bisa mencari data yang harus diisi oleh para user, tetapi ia tidak bisa berempati dan apalagi berintuisi. Kompetensi-kompetensi inilah yang perlu kita asah.

Hal lain yang perlu kita lakukan adalah yang sering disebut sebagai thinking outside the box. Bagaimana caranya? Individu hanya bisa keluar dari kebiasaan berpikirnya bila ia melakukan interseksi dari beberapa disiplin ilmu yang berbeda-beda. Misalnya, seorang arsitek yang menggunakan cara berpikir seorang ahli biologi, bisa menemukan cara mendesain bangunan yang lebih ramah lingkungan. Pada era informasi sekarang ini, analisis data seperti data science pun terdiri atas gabungan ilmu pemrograman, statistik dan ilmu manusia. Gabungan dari tiga disiplin ilmu ini membuat individu bisa lebih berpikir kompleks daripada sebelumnya, yang merupakan kompetensi yang jauh lebih unggul dari komputer terpandai sekalipun. Di sini: “Your human cognitive characteristics will become even more valuable”

Manfaatkan “creative flow state”

Karena kesibukan, baik di perjalanan, berpindah dari satu rapat ke rapat lain, berbicara di telepon, bermedia sosial, menjawab e-mail, maupun lainnya, kita sering tidak berkesempatan masuk dalam situasi pengosongan pikiran yang total. Padahal, bila pikiran masih dipenuhi dengan masalah-masalah yang belum selesai, ia tidak akan siap untuk berpikir kreatif. Oleh karena itu, kita perlu melakukan time management yang tepat agar otak kita berkesempatan untuk beristirahat, berada dalam kondisi flow sehingga dapat memikirkan hal yang berbeda dan keluar dari rutinitas.

Jangan menyepelekan kolaborasi

Bila pada era sebelumnya kita masih dimengerti bila hanya berkonsentrasi pada sasaran kerja sendiri tanpa memikirkan bagian lain, saat sekarang, hal itu sudah tidak mungkin kita lakukan. Bila masih berada dalam kondisi seperti itu, pasti kerja kita tidak efisien. Dengan bekerja sama, pekerjaan kita bertambah cepat dan tepat. Apalagi bila sehati, kita tidak perlu lagi bicara bertele-tele dan bisa mendapat kritik konstruktif. Selain itu, hanya dengan bersinerginya pemikiran-pemikiran yang berbeda, kita bisa merancang masa depan yang tidak terpikirkan sebelumnya.

Kita lihat, dengan berpikir lebih aktif, kita bisa memanfaatkan artificial intelligence secara aktif dan mengembangkan kerja kita lebih jauh lagi ke depan.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 5 Oktober 2019.