“Smile!!!”

Perkembangan ekonomi yang membawa pembaruan, bahkan bisa disebut revolusi, membuat kita berfokus pada masalah ekonomi terus. Namun, di lain pihak, orang juga mulai berpikir mengenai kebahagiaan. Banyak bahasan dan penelitian yang berusaha menemukan faktor apa saja yang akan membuat manusia merasa lebih sejahtera dan sehat mental. Ada hal yang sebenarnya lekat pada diri kita, begitu mudah untuk dilakukan, tetapi sering terlupa, yaitu senyum.

Teman saya tidak sadar bahwa ia sangat mahal senyum. Pernah teman lain menanyakan apakah hatinya sedang gundah atau marah pada seseorang. Dia menjawab bahwa ia tidak merasa marah sama sekali. Ia juga tidak sadar bahwa ekspresinya agak cemberut. Rupa-rupanya kesadaran teman kita ini akan ekspresi wajahnya sudah menjadi tumpul. Tidak ada kontak otomatis antara otak dan otot-otot di wajahnya.

Ini bukan terjadi pada teman saya saja. Berapa banyak orang yang kita lihat mahal senyum dan tidak berusaha memperbaiki dirinya, entah karena tidak sadar akan ekspresinya ataupun memang tidak tahu apa manfaatnya. Padahal, dengan sedikit usaha, seseorang bisa mendapatkan banyak manfaat dari senyuman.

Ada paling sedikit lima alasan senyum itu begitu penting. Pertama, senyum membuat diri kita dan lingkungan sosial di sekitar lebih rileks. Cemberut menciptakan ketegangan dan menaikkan sikap defensif pada lingkungan sekitar. Hal ini tentunya tidak menguntungkan karena pada dasarnya kita selalu ingin berkolaborasi dan saling memengaruhi dengan orang lain. A smile communicates that you are safe and can be trusted.

Kedua, senyuman menghasilkan energi positif yang menular dan mempunyai daya tarik. Kalau melihat orang tersenyum pada kita, umumnya kita pun akan ikut tersenyum.

Ketiga, senyum memudahkan kita membuat koneksi ke orang lain, mendekatkan jarak yang tadinya mungkin terasa jauh. Ketika duduk di ruang antrean dokter dengan pasien lain yang tidak kita kenal sebelumnya, sebuah senyuman bisa membuat suasana tiba-tiba menjadi cair dan obrolan menjadi begitu mudah mengalir. Bagaimana kalau bertemu dengan CEO kita di dalam lift? Bukankah wajah yang tersenyum bersahabat akan membuatnya teringat pada kita?

Keempat, bukankah kita akan merasa nyaman bila berada di suatu lingkungan, katakanlah sebuah restoran, yang semua karyawannya tersenyum dengan tulus, bukan sekadar karena diwajibkan oleh manajemen? Nah, bila kita menjadi pemimpin, bukankah senyum itu sangat perlu untuk menghasilkan atmosfer positif di organisasi? ”When leaders smile, everyone smiles”.

Kelima, senyum ternyata memiliki efek biologis karena senyum bisa merangsang otak untuk melepas hormon endorfin dan serotonin, yang selain membangun suasana hati yang positif, menurunkan tekanan darah dan meningkatkan sistem imunitas tubuh. Jadi, bisa dikatakan bahwa senyum lebih murah daripada obat-obatan.

“The world’s most powerful gesture”

Semuanya tentu tahu ketenaran lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci. Banyak orang bertanya-tanya mengapa lukisan tersebut begitu tenar. Satu jawaban yang sifatnya universal adalah senyuman uniknya.

Andrew Newberg, seorang neuroscientist, mengatakan, senyuman sudah dirating sebagai gerakan dengan konten emosional yang paling tinggi. Ia pernah ditegur gurunya agar lebih banyak tersenyum pada masa sekolah. Sejak itulah ia tertarik mempelajari mekanisme senyuman.

Apa yang terjadi di dalam otak kalau kita tersenyum? Katakanlah kita menghadapi situasi positif, seperti bertemu teman lama. Sistem syaraf kita langsung mengirim sinyal dari korteks ke batang otak. Setelah itu, otot kranial langsung bekerja dan menggerakkan otot senyuman di wajah kita. Ini hanya awalnya. Bila otot senyum di wajah sudah ditarik, ada sinyal positif yang dikirimkan kembali ke otak dan merangsang rasa gembira kita.

“Smiling stimulates our brain’s reward mechanisms in a way that even chocolate, a well-garded pleasure-inducer, cannot match.” Jadi, di sini kita bisa melihat siklus lingkaran kebahagiaan. Otak yang merasa bahagia memerintahkan kita untuk tersenyum dan senyuman kita menyuruh otak untuk merasa lebih bahagia.

Newberg mengungkapkan bahwa ada dua jenis senyuman. Pertama, yang melibatkan otot di seputaran mata yang banyak bekerja, yang disebut sebagai genuine smile muscle. Kedua, social smile yang banyak bekerja adalah otot di seputar bibir. Diindikasikan senyum yang lebih tulus dihasilkan tidak hanya dari otot seputar bibir, tetapi juga pergerakan otot-otot matanya. Karena mata adalah jendela jiwa, bukan?

Otak kita pun dengan tajam bisa melakukan penilaian dan meraba rasa kualitas senyuman seseorang. Salah satu contoh yang nyata adalah betapa kita tidak ikut tersenyum pada pejabat tertentu yang tampak selalu tersenyum, tetapi tidak terasa ketulusannya. Sementara itu, dari sebuah foto pun, kita bisa merasakan senyum hangat Bapak Presiden kita di tengah segala kesibukan kunjungannya ketika menggendong anak kecil yang juga tersenyum dengan lebarnya digendong Bapak Presiden.

Otak kita akan mencatat semua reaksi orang lain yang berespons terhadap senyum kita dan kemudian membiasakan kita mengeluarkan respons positif itu. Ada penelitian yang membuktikan bahwa orang-orang yang dalam buku kenangan SMA-nya tersenyum tulus, ternyata lebih awet muda daripada yang cemberut.

Apakah senyum bisa dipelajari? Ternyata, banyak cara praktis untuk berlatih tersenyum. Pertama-tama, latihlah otot-otot senyum kita. Tarik otot bibir kita jauh-jauh. Semakin sering berlatih, semakin lentur otot bibir kita sehingga semakin mudah kita untuk tersenyum. Kemudian setiap kali kita akan berinteraksi dengan orang lain, bayangkan situasi-situasi positif yang akan terjadi. Otak kita langsung akan mengirimkan perintah senyum. Karena kita tahu bahwa senyum itu menular, bergaullah dengan mereka yang memiliki energi positif sehingga kita juga tertular energi positif tersebut. Pada saat inilah lingkaran emosi kita sudah bekerja. Bila melakukannya setiap hari, semoga kita menjadi a smiling person dan tersenyum secara otomatis.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 29 Juni 2019