Sikap Defensif

Pernahkah Anda menghadapi seseorang yang begitu bebal? Sudah tahu bahwa dirinya salah, tetapi tetap tidak mengakui kesalahannya. Padahal, fakta-fakta sudah terpampang dengan jelas dan terbuka.

Di tempat kerja juga, banyak kita melihat gejala ini. Ingatkah betapa kita sendiri langsung menyambar dengan rasa tidak senang ketika ada yang berargumen dengan pendapat yang kita sampaikan? Ingatkah, bagaimana bila analisis yang sudah kita persiapkan sebaik-baiknya dikritik oleh orang lain?

Gejala sikap defensif ini bisa juga dalam bentuk lain. Seorang atasan yang memaksakan pendapatnya dan berusaha mencari bukti-bukti yang hanya menguatkan pendapatnya itu sambil mengabaikan kenyataan yang tidak sesuai dengan argumennya. Selain itu, seseorang yang tidak mau berterus terang karena takut dipecat kalau ia membuka mulut. Ada lagi individu yang sulit sekali menerima umpan balik dengan berusaha meyakinkan orang lain bahwa tindakannya itu memiliki alasan yang kuat sehingga ia seharusnya tidak dipersalahkan.

Bela diri ini memang bisa keras, tetapi ada juga yang melakukannya dengan halus. Prinsipnya, sikap defensif ini bagaikan sikap memasang kuda-kuda ketika kita merasa terancam oleh serangan binatang buas. Rasa terancam inilah yang membuat individu bisa secara sungguh-sungguh berusaha mempertahankan pendapatnya dan tidak peduli pada pendapat ataupun pikiran orang lain.

Kita mungkin tidak habis pikir mengapa orang sampai bisa begitu keras memasang pertahanan yang nyata-nyata tidak sesuai dengan realitasnya. Padahal, sikap ini bisa menjadi penghambat besar individu dalam kariernya. Orang yang defensif sulit membina hubungan dengan orang lain secara tulus dan akhirnya kehilangan kesempatan untuk berkembang lebih lanjut. Pertanyaannya, bagaimana dengan diri kita, kapan saat terakhir kita mau mengaku salah? Kapan saat terakhir kita bisa dibantah? Kapan saat terakhir kita cepat memotong pembicaraan seseorang yang terasa akan menjatuhkan kita?

Bila tidak hati hati kita memang sulit membedakan apakah respons kita itu sehat, wajar atau sudah mulai berbahaya bagi pengembangan diri. Ketidaksadaran itu terjadi bila kita memang tidak berusaha untuk tetap mawas diri dan malah terjebak dalam drama kehidupan, baik di pekerjaan maupun keluarga, dengan segala macam serangan dan ancamannya.

Defensif itu manusiawi

Banyak di antara kita yang merasa bahwa kita hanya mempunyai satu jati diri. Padahal, jati diri, self kita ini terdiri atas dua bagian.

Self yang pertama dikendalikan oleh bagian otak pre-frontal cortex dan dimediasi oleh sistem syaraf parasimpatetik. Self ini biasa kita munculkan secara sadar di kehidupan. Ia berpenampilan tenang, terukur, dan rasional. Self yang kedua dikendalikan oleh bagian pusat otak yang disebut amygdala. Ia dimediasi oleh sistem syaraf simpatetik. Self yang kedua ini lebih berfungsi bila ada ancaman atau bahaya. Ia lebih reaktif, impulsif, dan biasanya bekerja di luar kontrol individu.

Ibarat didekati seekor singa yang terlihat lapar, kita akan berusaha sekuat tenaga mencari cara menyelamatkan diri dengan hal-hal yang mungkin sebelumnya kita tidak sadar akan mampu kita lakukan. Misalnya, tiba-tiba kita bisa memanjat pohon atau lari lebih cepat dari biasanya. Dalam kehidupan sosial, kita memang tidak ada singa, tetapi ancaman bisa datang terhadap harga diri dan nilai yang kita anggap penting. Bila harga diri, self worth seseorang terluka, ia akan mengupayakan segala cara agar bisa terselamatkan.

Dalam keadaan merasa terancam ini, individu akan menggunakan kapasitas berpikirnya yang paling tinggi untuk menyelamatkan harga dirinya. Jonathan Haidt memberi istilah inner lawyer kepada mekanisme dalam diri yang akan membela diri kita mati-matian. Ahli hukum dalam diri kita ini jago dalam merasionalisasi, menghindar, membelokkan, dan menyembunyikan fakta, menyangkal, meremehkan, bahkan menyerang dan menyalahkan orang lain untuk hal yang jelas-jelas diperbuat individu. Dalam banyak kejadian, individu tidak bisa mengendalikan reaksi-reaksi ini. Namun, jelas, individu akan merasa tegang, tidak nyaman dan lelah.

Menjadi individu yang “observant” dan bertumbuh

Bila ingin menjadi manusia yang utuh dan matang, kita perlu terbiasa untuk melihat diri dari dua sisi. Sisi baik yang normal dan sisi defensif yang bagaikan inner lawyer tadi. Dengan menyadari aktivitas self yang kedua ini, kita bisa berusaha menjaga diri dan menghentikan respons-respons impulsif yang tidak terkontrol.

Kita perlu menggarap beberapa respons yang sering muncul ketika dikritik, seperti ketidaksabaran, frustrasi, dan kemarahan. Carilah teman yang bisa mengingatkan dan menyadarkan kita tentang realita sebenarnya dan apa tanggung jawab saya dalam situasi ini.

Kita perlu menyadari penyakit-penyakit berpikir negatif yang sering mengotori pikiran kita seperti ‘all or none thinking’, yang hitam putih dan tidak terbuka untuk kemungkinan baru yang belum dikenal. Atau, malah menggeneralisasi sesuatu dan menggunakan kata-kata selalu atau tidak pernah.

Sebagai manusia dewasa, kita semua pasti sadar bahwa sikap defensif ini tidak keren. Namun, kita sering tidak tahu bagaimana memulai sikap awas dan membiasakan mengendalikan diri dalam memberi respons yang lebih sehat. Kita bisa mulai mengkaji apa saja nilai yang kita junjung tinggi. Misalnya, apakah kita menganggap bahwa fairness harus ditegakkan, apakah kita lebih mementingkan hubungan baik daripada mau menang sendiri, atau apakah kita percaya bahwa keberbedaan itu memang sangat penting?

Hal yang paling prinsipiel adalah kita tetap perlu menanamkan growth mindset dalam pikiran kita, tak peduli usia dan jabatan kita. Semua saran argumentasi dan kritik, perlu kita anggap sebagai asupan mental sambil terus berlatih komunikasi asertif agar bisa menyampaikan argumentasi dengan kuat, tetapi elegan karena orang yang mengkritik sebenarnya berarti memiliki perhatian ekstra terhadap hasil karya kita.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 15 Juni 2019.