SDM Unggul

Tema kebijakan APBN tahun anggaran 2020 yang berpusat pada sumber daya manusia (SDM) tentunya bukan tanpa alasan. Betapa tidak, Indonesia yang berpenduduk hampir 300 juta jiwa sekarang, seharusnya bisa mendominasi pemanfaatan tenaga kerja di seluruh dunia bila memang memiliki SDM-SDM unggul.

Arie de Geus, seorang pengamat manajemen SDM, mengungkapkan, “The ability to learn faster than your competitors may be the only sustainable competitive advantage”. Menghadapi era perubahan yang demikian cepatnya, kemampuan belajar secara cepat tentunya memang merupakan hal yang esensial untuk dimiliki oleh para tenaga kerja. Pertanyaannya kemudian, apakah SDM Indonesia memiliki kemampuan belajar yang super cepat ini?

Beberapa waktu yang lalu, seorang agen ponsel buatan Korea bercerita kepada saya mengenai betapa kompetitifnya gerak perusahaan ponsel China. Terlepas dari legal tidaknya pemanfaatan karyawan berkewarganegaraan China itu, kecepatan bekerja mereka benar-benar secepat kilat. Pekerjaan yang diselesaikan oleh para pekerja lokal selama 1 bulan, bisa dikerjakan mereka selama 3 hari. Meskipun pekerja-pekerja ini berjumlah sedikit, mereka seolah tidak pernah berhenti bekerja, sedikit bicara, bahkan seperti tidak butuh tidur. Makan pun terlihat sangat ala kadarnya. Melihat keadaan ini, kita memang perlu mempertanyakan daya saing pekerja kita.

Ini adalah konsekuensi globalisasi. Ekonomi tidak berbatas, teknologi semakin maju dan semakin tidak berbatas lagi. Demografi berubah. Dunia sekarang tidak sama dengan 10 tahun yang lalu, setahun yang lalu, bahkan sehari yang lalu sekalipun. Juga, tidak sama dengan esok hari. Tantangan bagi kita semua adalah bagaimana kita menata SDM yang adalah aset paling berharga kita dan mempersenjatainya dengan talenta, keterampilan, struktur, teknologi, dan budaya yang pas. Kekuatan artificial intelligence, pekerja dari negara lain dengan keahlian khusus mereka, sudah menanti di ambang pintu. Bisakah kita berespons positif dan memenangkan situasi ini? Kualitas SDM macam apakah yang kita butuhkan bagi masa depan?

Pada zaman VUCA seperti ini, pembelajaran perlu mempersiapkan tenaga kerja untuk hidup dalam ekonomi yang lebih technologically driven dan knowledge based. Selain menyesuaikan diri dengan perkembangan teknologi, para coach dan pengajar perlu mengajak para pembelajar untuk memahami teknologi terkini dan menjaga keutuhan aspek-aspek humanisme, seperti kreativitas, tata krama, moralitas, akal sehat, dan etika. Bukankah kita bisa melihat keunggulan presiden kita, dibandingkan dengan kebanyakan pemimpin negara lain? Dengan cepat, ia belajar menghadapi dan bertransaksi dengan bangsa lain sekaligus juga menunjukkan respek kepada orang lain dengan turun panggung menyalami komandan upacara perayaan 17 Agustus. Kita bisa mengagumi sosok pemimpin kita ini dari berbagai segi: pikiran, hati, dan tangannya. Dari mana Bapak ini mempelajari semua keterampilan ini?

Pembelajaran 3H: “head, heart, dan hand”

Beberapa ahli (Henting, 1997; Bruner, 2000; Stoll dan Fink, 2000; Faultisch, 1999) berpendapat bahwa pengembangan SDM tidak bisa menggunakan cara lama lagi. Masih banyak pendidikan sekarang yang mengunggul-unggulkan rasio. Sementara itu, kita sudah membuktikan bahwa tidak hanya hard skills yang dibutuhkan untuk menghadapi situasi ini, tetapi juga soft skills. Kita tidak bisa hanya mengajarkan thinking tanpa feeling. Kita tahu bahwa di samping kerja keras, keterampilan dan kecerdasan, intuisi, kreativitas, serta inovasi adalah kekuatan daya saing.

Bila melihat bahwa harus terjadi reformasi pada banyak hal seperti struktur organisasi dan gaya hidup, kita pun perlu mempertimbangkan reformasi dalam sistem dan kualitas pengajaran. Bisakah kita bayangkan bila saat ini anak-anak kita mendapat pengajaran yang hanya merangsang kepalanya, tanpa memperhatikan konteks, kelengkapan, dan integritasnya sebagai manusia? Bagaimana kita bisa melahirkan manusia-manusia yang kreatif dan inovatif bila pengetahuan yang didapat tidak membentuk dasar pembekalan life long learning dari integrasi tiga domain: kognitif (head), afektif (heart), dan psikomotor (hands).

Pengetahuan teoretis tidak hanya ditangkap oleh otak, tetapi juga perlu ditangkap oleh hati (heart), tangan (hand), dan semua indera, bahkan seluruh tubuh. Kita tidak bisa memusatkan pengajaran pada pikiran saja. Pencernaan informasi hanya akan dipercepat bila pancaindera memberi tambahan informasi kepada otak kita. Belajar yang terjadi secara kognitif, afektif, dan experiential akan mendorong kecerdasan untuk berkembang di seluruh tubuh, tidak hanya di pikiran, tetapi juga di perasaan, keterampilan, dan tentunya emosi yang membangkitkan motivasi. Dalam pemecahan masalah, misalnya, imajinasi, visualisasi, bahkan metakognisi individu sangat penting agar individu memiliki pikiran terbuka, bebas, dan kreatif.

Negara sebagai “learning organization”

 Istilah learning organization sebenarnya sudah lama dipakai di perusahaan-perusahaan, tanpa banyak disikapi dengan serius. Pembelajaran masih tetap bergantung pada pembelajaran-pembelajaran dari pihak eksternal, belum menggalakkan active learning. Sekarang, kita tidak punya pilihan untuk tidak melakukan perubahan besar pada pendekatan pembelajaran. Dibantu oleh tersedianya pengetahuan secara gratis, pemerintah bisa membuat sebanyak-banyaknya sumber pembelajaran, dari pendidikan dasar sampai tinggi, dari yang umum sampai yang sangat spesifik.

Atasan dalam hal ini perlu berperan sebagai seorang coach yang memperhatikan perkembangan, preferensi, dan kecepatan cara belajar anak buahnya, melakukan bimbingan profesional pada setiap bawahannya, alih-alih hanya menjadi pihak otoritas pemberi reward dan punishment. Setiap individu karenanya bisa menjalankan self learning sendiri yang diawasi dari jauh dan atasan hanya melakukan pendekatan yang lebih intensif pada mereka yang benar-benar membutuhkan pertolongan.

 “Develop a passion for learning. If you do, you will never cease to grow”. Anthony J D’Angelo.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 31 Agustus 2019.