Obyektif, Yuk!

Pernah mendengar dongeng kaisar telanjang? Konon, hiduplah seorang kaisar yang sangat senang menggunakan busana indah. Semua tukang jahit seantero negeri diminta untuk menjahitkan baju yang indah-indah baginya.

Ada dua penipu mengatakan bahwa mereka akan menjahitkan baju terindah di dunia. Mereka meminta disediakan kamar khusus untuk menjahit dan bahan-bahan termahal, seperti benang emas, berlian, dan permata. Ketika mulai bekerja, mereka kelihatan seolah-olah menjahit, tetapi tidak ada yang bisa melihat apa yang dijahit. Para hulubalang kaisar juga mempertanyakan mengenai keberadaan baju itu. Kedua penjahit meyakinkan bahwa baju yang sedang dijahit sangat indah dan tidak terlihat oleh orang “biasa”.

Walhasil, para petinggi kekaisaran berusaha pura-pura melihat, khawatir dianggap sebagai orang biasa. Tibalah saat kaisar ingin mencoba baju yang sudah sangat dinanti-nantikannya itu. Ia ingin memamerkannya di depan seluruh rakyatnya agar mereka mengagumi keindahannya. Meskipun kaisar sendiri sebenarnya juga tidak bisa melihat baju tersebut, tentunya ia juga tidak ingin dianggap sebagai orang “biasa” saja apalagi di hadapan rakyatnya.

Semua orang diyakinkan bahwa baju ini terbaik dan terindah di dunia serta hanya orang-orang hebatlah yang bisa mengagumi keindahannya. Ketika kaisar tampil, semua orang bertepuk tangan menunjukkan rasa kagum dan berteriak, “Hidup kaisar, hidup kaisar!” Sampai tiba-tiba, ada seorang anak kecil berteriak, “Kaisar telanjang, kaisar telanjang!” Semua orang terperangah, sementara anak kecil itu tertawa terbahak-bahak. Rakyat yang mulanya mengelu-elukan sang kaisar, perlahan-lahan mulai berbisik-bisik dan akhirnya ikut tertawa-tawa. Mereka mulai ikut berteriak, “Kaisar telanjang!”

Bisa kita bayangkan bagaimana perasaan kaisar setelah menyadari bahwa ia tertipu dan berdiri di depan rakyatnya tanpa mengenakan apa-apa. Dari sini, kita bisa melihat bahwa penilaian sering dikacaukan oleh persepsi diri sendiri. Padahal, dalam dunia profesi, kerja, bahkan politik, kita seharusnya menjaga obyektivitas kita.

Jadi, kita bisa bertanya seberapa sering “baper” alias taking things personally? Seberapa sering kita tersinggung karena merasa bahwa nada bicara orang tidak enak didengar? Seberapa sering kita menghakimi orang lain tanpa mendasari penilaian kita dengan fakta dan data? Bukankah kebanyakan dari kita sering mengalami situasi ini? Hal ini sangat manusiawi.

Kita sering berada di bawah tekanan, yang kemudian mengaburkan penilaian. Dalam keadaan stres, banyak di antara kita mengacu pada pengalaman, asumsi-asumsi lama, bias-bias, yang membungkus kemampuan kita untuk melihat kenyataan. Tambahan lagi, kalau keinginan kita yang sangat besar untuk sukses ditambah dengan rasa tidak aman akan membuat kita menjadi tidak produktif dan mengambil jalan potong berdasarkan logika sendiri.

Menyadari model mental kita

Terkadang kita tidak bisa habis berpikir mengapa seseorang bisa mempunyai pola pikir yang tidak obyektif, di tengah akses informasi yang luas ini. Mereka hanya mau mengamati satu stasiun TV yang sejalan dengan pandangannya. Data dan fakta yang berbeda tidak diklarifikasi dan dipahami, tetapi hanya dicurigai keabsahannya.

Suasana seperti ini adalah suasana yang sering membuat kita tidak bahagia. Kita bisa saja melakukan pembenaran, tetapi jauh di dasar hati kita sebenarnya tahu bahwa pendapat kita belum berdiri di atas kebenaran. Jadi, apa yang harus kita kerjakan agar bisa tetap obyektif? Kita perlu sering sering mempertanyakan model mental kita. Masih sehatkah? Masih lurus dan terbukakah?

Bila model mental mulai condong ke satu arah, kita perlu sadar bahwa pengertian kita pun akan condong ke arah tersebut dan kemungkinan tidak benar semakin besar. Kita menjadi reaktif dan cepat tersinggung terhadap perbedaan. Hal ini bisa menjadi semakin kuat ketika kita hanya berkumpul dengan mereka yang sepemikiran dan mendukung ketidakobyektifannya.

Kabar gembiranya adalah otak manusia mempunyai neuroplasticity yang bila rajin dilatih mampu menggerakkan otak untuk tidak kembali pada pola pikir yang sudah otomatis dilakukan, tetapi mencari model mental lain. Otak akan menemukan jalan baru dan membentuk kebiasaan berpikir baru yang otomatis mengubah cara persepsi dan berespons ke dunia luar.

“Change your mind!”

Mark Jung-Beeman, seorang ahli neuroscience dari Northwestern University, menggunakan MRI dan EEG untuk meneliti perubahan model mental. Dari penelitian ini, terlihat adanya moments of insight, tersemburnya semacam zat adrenalin, dan berubahnya koneksi-koneksi syaraf dalam otak. Koneksi baru ini berpotensi untuk membentuk model mental baru dan menghapus model mental yang salah. Orang yang dewasa harus memiliki kebiasaan mengecek model mental ini dan bergulat melawan subyektivitasnya untuk mempraktikkan obyektivitas lebih banyak.

4 prinsip obyektivitas

Eilzabeth Thronton, dalam bukunya Value of Objectivity, mengemukakan bahwa ada empat prinsip yang bisa kita pegang untuk menjaga obyektivitas.

Prinsip 1: berlatih menerima keadaan apa pun, baik yang enak maupun tidak enak, dengan lapang dada dan sikap waspada. Waspada terhadap reaksi, “Mengapa saya? Mengapa kejadian yang tidak enak selalu menimpa diri saya?” Atau, yang langsung menolak kejadian itu, seolah-olah hal itu tidak akan terjadi pada dirinya.

Prinsip 2: pahami dan hargai perbedaan. Proyek Human Genome menyatakan bahwa dari 3 miliar DNA seorang manusia, hanya 0,1 persen DNA berbeda. Yang lain, semuanya sama. Namun, perbedaan yang sedikit itu juga dipengaruhi oleh latar belakang, pendidikan, dan gaya hidup masing-masing individu. Inilah sebabnya kita tidak bisa mengingkari atau marah dengan keberbedaan individu satu sama lain.

Prinsip 3: kita perlu memahami arti kegagalan. Kegagalan disebabkan ketidaktahuan kita tentang variabel tersembunyi yang berpengaruh terhadap hasil yang diharapkan. Satu-satunya jalan menghadapi kegagalan adalah mempelajari variabel baru ini dan berencana untuk memasukkannya ke dalam pertimbangan ketika menghadapi tantangan baru. I am starting to realize that I need to ban the word “should” from my vocabulary and thinking. There are no shoulds, there is only “what is.” To be objective is to accept “what is,” and then move on.

Prinsip 4: segala sesuatu dalam semesta ini berhubungan dan berinterelasi, termasuk individunya dan kita sendiri. Kita tidak pernah sendiri. Pasti ada kesamaan yang kita miliki dengan yang lain. Hal ini akan membawa kita kepada optimisme dan tetap akan membuat bersikap obyektif.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 27 April 2019.