Keberanian dan Integritas

Pernahkah Anda mendengar nama Easy Eddy, seorang pakar hukum yang sangat terkenal pada tahun 1920–1930-an. Ia demikian piawai dalam membela klien-kliennya sampai-sampai ia direkrut oleh Al Capone, penjahat terbesar pada zaman itu. Kepiawaiannya selalu berhasil membuatnya membebaskan kelompok mafia ini dari semua kejahatan yang mereka lakukan. Mulai pemerasan, peredaran narkoba, hingga pembunuhan sekalipun.

Easy Eddy ini memiliki seorang anak laki laki yang tinggal bersamanya di rumah yang sangat mewah. Al Capone memberikan apa saja yang dibutuhkannya sehingga kehidupannya sangatlah nyaman. Hingga suatu hari, Easy Eddy berpikir, apakah kekayaan ini yang benar-benar dibutuhkan oleh anak saya untuk saya wariskan? Bisakah anak saya bangga menyandang namanya dengan seluruh kekayaan ini?

Setelah lama berpikir panjang, ia berpendapat bahwa hal yang bisa diwariskan bagi anaknya dan tak akan pernah habis dimakan waktu adalah “the legacy of a good name. Maka, Eddy mengambil keputusan bahwa ia akan membela negara untuk memberantas kejahatan. Ia berbalik dari Al Capone. Satu per satu kejahatan Al Capone dikalahkannya. Dengan sepak terjangnya ini, umurnya tidaklah panjang. Ia dibunuh dalam perjalanannya pulang ketika melalui ladang-ladang sepi. Cita-citanya untuk meninggalkan nama baik bagi putranya harus dibayar mahal dengan hidupnya sendiri.

Pada masa yang berbeda, ada seorang penerbang angkatan udara Amerika yang ditugaskan untuk membawa pesawat yang berpangkalan di kapal induk Lexington. Dalam salah satu masa tugasnya, ia menyadari bahwa bahan bakarnya ternyata lupa diisi sehingga ia mengatakan pada pemimpinnya bahwa ia harus terbang kembali untuk mengisi bahan bakar. Dalam perjalanan baliknya itu, ia melihat 9 pesawat bomber Jepang sedang mengarah ke kapal induk Lexington dan pasti akan menenggelamkannya.

Sendirian, penerbang muda ini kemudian menyerang 9 pesawat bomber itu. Dengan persediaan senjata yang tidak banyak, ia berhasil menembak jatuh 2 pesawat. Namun, tidak berhenti di situ, ia kemudian menabrakkan pesawatnya ke sayap pesawat bomber Jepang sehingga bisa membuat jatuh lagi 3 pesawat. Empat pilot pesawat sisanya, yang melihat betapa gilanya penerbang ini menyerang mereka akhirnya memutuskan untuk terbang kembali ke pangkalan mereka.

Orang-orang di kapal induk Lexington hanya bisa menyaksikan hal ini tanpa bisa berbuat apa-apa. Ia kembali dengan pesawat yang babak belur dan dia adalah perwira Amerika pertama yang mendapatkan medali US Congressional Medal of Honour, penghargaan tertinggi yang ada.

Nama orang ini adalah Butch O Hare, yang sekarang dipakai sebagai nama bandara di Chicago. Ia dianggap sebagai pahlawan yang sangat terhormat, karena mau mengorbankan keselamatannya sendiri demi orang lain. Hal yang sangat menarik adalah O Hare ternyata putra tunggal dari Easy Eddy. Rupanya pengorbanan Easy Eddy tidaklah sia-sia. Ia tidak hanya meninggalkan nama harum bagi keturunannya, tetapi juga berhasil mewariskan keberanian dan integritas bagi putranya ini.

Integritas adalah kata yang sering kita dengar di mana-mana dalam keseharian kita. Begitu banyak perusahaan yang mencanangkan integritas sebagai salah satu value utamanya, tetapi kita jarang mendalaminya sampai gamblang dan tahu persis bagaimana kita bisa meraba integritas itu. Integritas adalah kode moral yang memengaruhi perilaku individu. Karena pegangan integritas, seseorang bisa melakukan hal yang benar, tak peduli apakah hal ini nyaman atau tidak.

Integritas menyangkut banyak aspek dari kehidupan. Apakah seseorang mau melepas kredit, kepada teman yang ia tahu reputasinya sangat bagus, tetapi sayangnya belum memenuhi persyaratan yang ditentukan di tengah target yang masih mengejarnya? Apakah kita galau untuk melanggar aturan ganjil genap ketika sedang terburu-buru menghadiri pertemuan yang sangat penting bagi organisasi kita?

Dunia ini demikian kompetitif sehingga banyak orang khawatir jika ia “lurus-lurus” saja akan sulit bertahan dalam arus persaingan ini. Integritas dipinggirkan sebentar bila sedang tidak dibutuhkan. Baru nanti, misalnya seseorang ingin membongkar skandal kecurangan, masalah integritas diangkat lagi menjadi isu yang menarik. Padahal, para pemimpin, wirausaha, dan pemilik bisnis tidak pernah boleh meninggalkan hal ini sekejap pun. Teringat almarhum Tahiya yang berusaha mengumandangkan masalah ini di Bank Niaga, baik secara lisan pada setiap pertemuan tatap muka beliau dengan karyawan maupun tulisan.

Integritas dalam keseharian kita

Seberapa sering kita menggunakan waktu kerja untuk melakukan hal-hal yang sama sekali tidak ada hubungan dengan pekerjaan? Melakukan update social media, chatting dengan teman-teman yang dilakukan via web Whatsapp di laptop sehingga terlihat seperti tengah serius bekerja?

Pernahkah Anda mendapati kasus-kasus atasan ingkar janji terhadap anak buahnya. Menjanjikan promosi, proyek yang lebih besar, tetapi kemudian karena satu dan lain hal mengingkarinya tanpa berani menjelaskan secara transparan pada anak buahnya? Kita bisa melihat situasi-situasi ini sebagai hal yang sepele karena mungkin begitu sering terjadi. Namun, integritas memang bisa terjadi dalam hal kecil sehari-hari seperti ini.

Keberanian dan integritas

Dr Brené Brown yang banyak menulis buku tentang integritas mengatakan, “Integrity is choosing courage over comfort.” Kita memilih apa yang benar daripada yang menyenangkan, cepat, dan mudah. Kita juga memilih untuk mempraktikkan nilai-nilai yang kita anggap luhur daripada mencari alasan untuk menghindarinya. Kita harus berani mengambil risiko dan menyusun kekuatan untuk menggunakan hati nurani seperti yang diungkapkan Mark Twain, “Courage is the foundation of integrity.”

Menguatkan lingkungan berintegritas

Jadi, bagaimana kita menyikapi kesalahan? Kita harus bisa meminta maaf, mengakui, dan memperbaiki situasi. Kita pun bisa menjaga transparansi: say what you mean, mean what you say, Don’t be mean when you say it. Ketidakjelasan hanya membuat kecurigaan dan ketidakpercayaan tumbuh subur.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini  terbit di Harian Kompas edisi 3 Agustus 2019.