Jiwa Sportif

Masih ingat kejadian di Gelora Bandung Lautan Api (GBLA), ketika seseorang yang diduga tergolong Jakmania dikejar, dikeroyok, serta dipukul dengan balok kayu dan benda-benda lainnya oleh oknum suporter GBLA sehingga meninggal di tempat?

Bagaimana perasaan kita sebagai pengamat ketika itu? Apakah kita sebagai orang yang netral ataupun berpihak ke salah satu klub sepak bola bisa menerima kejadian ini? Apakah kita tidak merasa frustrasi? Apakah kita tidak mempertanyakan mengapa fanatisme yang kuat ini sampai bisa menghilangkan nyawa orang?

Dalam situasi ekstrem ini, kita sudah tidak bisa lagi melihat bahwa kegemaran terhadap olahraga adalah sesuatu yang menyenangkan, sehat, bahkan sebagai sarana meningkatkan kekuatan mental dan fisik. Kita mungkin mengira tingkah laku seperti ini wajar muncul bila terobsesi dengan suatu cabang olahraga tertentu. Di mana letaknya sikap sportif yang dulu kita kenal sebagai sikap fair, penuh respek terhadap rekan dan lawan, serta keanggunan ketika menang atau kalah? Alangkah mengecewakannya bila kita juga sudah tidak bisa melakukan benchmark ke dunia olahraga, yang sangat kental dengan sikap sportivitasnya.

Kita juga perlu mempertanyakan apakah sikap sportif masih dijunjung tinggi dan bisa diaplikasikan dalam berbagai aspek kehidupan lainnya, seperti lingkungan pendidikan, tempat kerja, rumah sakit, dan di dunia politik, yang sikut-sikutan kerap terjadi, meningkatkan kemarahan, rasa permusuhan, dan persaingan tidak sehat?

Kita banyak mendengar para pemuka masyarakat menenangkan pihak-pihak yang sedang bersaing atau bertanding agar berkepala dingin dan tidak melebarkan masalah kepada hal-hal yang tidak relevan. Demikian juga disarankan untuk tidak mengeluarkan kata-kata yang menghina, mencemooh, dan menjelekkan pihak oposisi. Namun, apakah peringatan ini harus dilakukan secara terus-menerus dan bahkan sepanjang pengembangan diri individu?

Manusia memang seyogianya mempunyai hunger for winning. Namun, bukankah kita juga tetap harus bertingkah laku penuh tanggung jawab, mengurangi kemarahan, egoisme, serta kecenderungan menghalalkan segala cara. Kita tentunya tidak ingin hukum rimba berlaku, yaitu yang menang bersorak kegirangan, sementara yang kalah menjadi lelucon.

“Value the game”

Dalam setiap permainan, yang paling sederhana sekalipun, kita mengenal adanya aturan. Aturan bisa diubah sesuai dengan kesepakatan, pemain pun bisa dipilih sesuai kebutuhan. Kita harus memastikan bahwa setiap pihak mempunyai kesempatan yang sama untuk menang. Bila tidak, seyogianya permainan tidak usah dimulai sama sekali.

Pada saat permainan berlangsung, segala hal yang berbentuk ancaman, hinaan, dan bahkan kekerasan tidak boleh terjadi. Demokrasi hanya bisa berjalan lancar bila semua bermain secara fair dan bertanggung jawab. Kita perlu menuntut diri untuk bersikap sportif. Kita perlu tetap sadar bahwa quick wins tidak pernah menguntungkan dalam jangka panjang. Untuk itu, sanksi harus diberikan pada mereka yang melanggar batas, entah itu pemain terbaik ataupun pemimpin sekalipun.

Masih ingat buku yang menggambarkan golden rule 101 di taman kanak-kanak? Jangan melakukan hal yang kita tidak ingin dilakukan oleh lawan. Semua suara harus didengar dan direspeki. Bila kemudian ada dusta, pelecehan, bullying, maupun hinaan, dengan segera kita perlu menghentikan permainan. Hal ini berlaku untuk Persib, Persebaya, Persija, partai politik, atau capres mana pun juga.

Kalah bukan berarti mengalah

Dalam dunia olahraga, tindakan walk out (WO) olahragawan bukanlah suatu tindakan yang elegan. Kita memang perlu melakukan perjuangan sambil tetap menghargai kekuatan dan taktik lawan, bermain sekuat tenaga, serta tahu kapan bersalaman dan kapan melakukan protes. Kita perlu bersikap dewasa dalam menyikapi kecurigaan akan kecurangan.

Corrective actions sangat diperlukan karena tindakan kecurangan dan tidak sopan mungkin saja terjadi di mana saja kapan saja. Namun, kita tetap harus ingat bahwa hasil akhir yang didapatkan dengan cara yang baik, akan membuat kita menjadi pemenang dengan harga diri.

Bertanding bukan bermusuhan

Pernahkah merasa bahwa kita ingin bertanding, tetapi lawan tidak tersedia? Bukankah di bangku sekolah kita menciptakan lawan dengan membagi dua atau lebih tim dan kemudian dipertandingkan. Tujuannya tidak sekadar kemenangan, tetapi juga terlebih lagi kita ditantang untuk berlatih dan meningkatkan performa.

Bila tidak memiliki lawan, kita tidak akan pernah tahu seberapa baiknya kemampuan yang dimiliki. Pertandingan seharusnya memang menyenangkan, semeriah yang biasa kita lakukan pada saat Agustus-an. Kita juga tahu bahwa dalam pertandingan, achievement diraih dengan usaha dan kerja keras.

Kesalahan pasti ada, tetapi tak perlu dicaci maki karena kesalahan adalah bagian positif dari sebuah pertandingan. Kita juga perlu memisahkan kemenangan dengan harga diri. Justru kita belajar untuk menghargai diri sendiri melalui pelajaran olahraga. Tekanan, stres terutama ketika menghadapi pertandingan, juga merupakan bagian penting dari permainan. Dari sini, kita akan belajar menikmati permainan, pertandingan, bahkan mengagumi dan belajar dari teknik dan upaya lawan yang lebih unggul daripada kita.

Pentingnya sikap sportif dalam semua aspek kehidupan kita

Ternyata belajar berolahraga tidak sekadar untuk menjadikan kita seorang atlet, tetapi juga pelajaran yang bisa mengajarkan kita menjadi warga negara yang baik, yang akan mengantar kita kepada demokrasi yang sehat. Bagaimana mungkin kita menghadapi pemilu 5 tahun sekali bila sikap sportif tidak dikembangkan dengan serius?

Tantangan kita adalah menjadi pribadi terbaik bagi diri kita sendiri dan lingkungan sekitar, bahkan di antara orang yang tidak mempunyai upaya yang sama. Kita perlu memeriksa bagaimana anak-anak kita, oposisi, melihat diri kita, dan apakah gambaran tersebut ideal bagi kita. Kita perlu menjadi model dari tingkah laku yang tepat bagi diri kita sendiri, dan hal inilah yang diharapkan oleh anak, bawahan, bahkan rakyat kita. Inilah cara untuk membuat negara kita menjadi negara yang berjiwa besar.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 4 Mei 2019