Ego

Sering kita melihat band kesayangan kita yang sudah sukses besar tiba-tiba memutuskan untuk bubar. Perusahaan keluarga yang dibangun dengan susah payah pun bisa saja tercerai berai. Dalam dunia politik, prinsip dan nilai hidup sering berubah-ubah dikarenakan kekuasaan. Mengapa mereka yang sepertinya sudah memiliki banyak uang, keterampilan, ketenaran, posisi yang baik, tetap terlibat dalam persengketaan yang tidak kelihatan ujung pangkalnya? Jawabannya sederhana: ego.

Ini memang istilah populer untuk menggambarkan jati diri seseorang. Yang sering tidak terima ketika pendapatnya ditolak pihak lain, yang begitu menginginkan kekuasaan penuh dalam mengambil keputusan, sampai yang ingin dirinya terus menerus menjadi fokus dalam beragam situasi maupun apresiasi. Ada juga yang tahu bahwa bekerja dalam tim itu merupakan suatu keharusan, tetapi tetap saja tidak bersedia melakukan akomodasi, kompromi, maupun tukar pikiran. Singkat kata, banyak orang yang merasa dan mempunyai paham: “saya benar kamu salah”.

Inilah sumber dari konflik dan tidak ditemukannya kata sepakat. Mindset yang selalu merasa terancam seperti ini menyebabkan banyak orang mempertahankan egonya mati-matian. Ada beberapa mindset yang bisa menghambat perkembangan kepribadian seorang individu. Keyakinan bahwa seseorang selalu betul, selalu baik, selalu bijaksana, selalu sukses, selalu harus didengar.

Mindset ini terbentuk saat pembangunan ‘ego’ yang seharusnya bisa menyeimbangkan antara konsep dirinya dan realitas yang ada, tetapi ternyata hanya fokus di satu sisi. Sebagai manusia yang utuh, kita seyogianya melihat ke dalam dan melakukan pengecekan berkala. Kita pun harus membangun kesadaran untuk mengonstruksi konsep diri pribadi dari waktu ke waktu. Ego kita perlu bekerja dengan aktif.

Bertanggung jawab terhadap pengembangan kepribadian sendiri

Seorang pemilik sekaligus pimpinan perusahaan sering membiarkan dirinya marah-marah dalam rapat, selalu menganggap bawahannya bodoh semua. Ia merasa dirinya memang harus bersikap demikian untuk kemajuan perusahaan. Orang di sekitarnya berusaha memahami sikapnya ini dengan memberi alasan mengapa beliau bersikap demikian. Mereka mengerti bahwa pimpinan ini mengalami masa kecil yang keras dan dengan susah payah ia membangun perusahaannya ini. Tidak ada seorang pun yang berani memberi masukan, untuk urusan bisnis, apalagi pribadinya. Alhasil, bapak ini hidup dalam keyakinan-keyakinan yang ia tumbuhkan sendiri. Orang seperti ini yang bisa jadi terlihat percaya diri, bukanlah orang yang egonya kuat, melainkan seseorang dengan kecenderungan egoistik.

Siapa pun kita, walaupun memimpin atau memiliki perusahaan sekalipun, dengan keyakinan apa pun, berapa pun jumlah kekayaan maupun penghargaan yang dimiliki tetap harus senantiasa menjaga kesehatan mental, dan bertanggung jawab terhadap setiap tindakan, tidak bisa menyalahkan lingkungan ataupun masa lalu.

Menurut ahli psikologi Sigmund Freud, tingkah laku kita, baik itu konstruktif maupun destruktif, berasal dari 3 dorongan yang mendasar: id, ego, dan superego.

Id sering disebut low self, yaitu semua dorongan serta keinginan primitif, yang berfokus pada diri sendiri dan tidak realistis bersarang. Dorongan ini otomatis timbul sejak lahir. Orang dewasa yang tidak bisa menahan dorongan ini biasanya tampil sebagai pemarah, penuntut, manja yang ingin semua keinginannya dituruti, serta tidak mau tahu tentang tata karma dan aturan sosial.

Superego adalah sistem kontrol yang didasari moral dan nilai-nilai kehidupan. Sejak bayi, kita sudah mengenal kata “jangan” dan “tidak boleh” yang merupakan dasar dari do’s and don’ts kehidupan. Dari sini, kita menghidupkan pemahaman mengenai benar salah, membangun standar moral dan idealisme kita. Bila sukses mempertahankan prinsip diri, kita akan bangga dan lega. Sebaliknya, ketika kita melanggar nilai atau norma aturan yang dianut, timbul rasa bersalah dan galau.

Ego adalah bagian dari kepribadian yang perlu bekerja keras. Ego yang malas akan mendiamkan id bekerja tanpa kontrol atau sebaliknya membiarkan superego menguasai semua tindakan sehingga individu seolah tidak berada dalam kesadaran yang realistis. Ego menyeimbangkan dorongan id dengan realitas dan standar nilai yang sudah ditetapkan oleh superego. Seorang yang ingin marah dan bersikap kasar atau memaksa, diingatkan oleh superego bahwa sikap tersebut dapat mendatangkan kecaman dari lingkungan. Egolah yang kemudian menimbang-nimbang konflik ini dan menyesuaikan tindakan dengan realita keadaan yang sedang dihadapi. Ego melakukan moderasi, modifikasi, dan mengatur agar individu berfungsi sesuai dengan norma sosial yang berlaku. Ego yang kuat adalah ego yang secara efektif bisa berfungsi untuk meningkatkan a higher self’ dari individu, menjadikannya pribadi yang lebih baik.

Ego: selalu siaga

Banyak orang menyamakan ego dengan rasa percaya diri. Rasa percaya diri sebenarnya adalah hasil dari ego sehat yang senantiasa aktif menyeimbangkan antara dorongan instinktifnya dan norma-norma sosial yang berlaku sehingga ia menjadi pribadi yang sehat, mampu berelasi positif dengan lingkungannya sambil tetap menjaga kebutuhan emosional pribadinya.

Ada beberapa cara yang bisa memudahkan bertumbuh kembangnya pribadi kita. Pertama, kita tidak bisa merasa benar sendiri terus. Kita perlu mengapresiasi dan memberi kredit kepada orang lain juga. Kita perlu berfokus pada masa depan dan senantiasa berupaya memperbaiki diri. Kedua, kita perlu belajar untuk tidak defensif. Perbanyak “wow” dan berterimakasihlah untuk masukan yang diberikan orang lain. Kita akan bangga bila sudah terbiasa tidak mengelak dan tampil menjadi pribadi yang open minded. Ketiga, bila menyadari terus bahwa kita tidak pernah boleh berhenti belajar, otomatis kita akan mengarah pada proses pembelajaran. Pribadi seperti ini tentunya akan tumbuh dan berkembang terus. Hal keempat adalah berfokus pada pelanggan. Bila terbiasa pada keinginan untuk memuaskan ‘stake holder’, kita pasti tidak bersikap egosentris lagi. Put the client first, and you will be the happiest person.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 18 Mei 2019.