Conflict of Interest

Banyak keputusan para atasan, pejabat atau manajer yang kadang membuat kita sedikit tidak nyaman, karena meskipun tampak tidak melanggar hukum tetapi terasa tidak “bersih” seratus persen.

Dalam skala kecil, kita bisa melihat bagaimana seorang yang berpengaruh menyuruh anak buahnya untuk memilih vendor yang ternyata adalah sahabatnya ataupun saudara jauhnya. Bisa juga seorang manajer merekomendasikan teman-teman karibnya untuk menjadi karyawan di perusahaannya.

Ada lagi direktur yang membiarkan putranya untuk melakukan bisnis yang sama dengan bisnis tempatnya bekerja dan memperkenalkan putranya ke pelanggan-pelanggan perusahaannya. Pada para bankir terlihat juga adanya fenomena pelepasan kredit yang lebih longgar kepada mereka yang bersahabat atau bersaudara dengan pengambil keputusan. Masih banyak hal-hal yang terjadi di sekitar kita yang mungkin tidak sampai melanggar peraturan atau hukum (karena aturan yang ada belum mencakup hal tersebut), tetapi tidak etis.

Ada yang tidak menyadari bahwa kejadian seperti ini bisa membuat orang di sekelilingnya tidak nyaman. Tetapi ada juga yang cukup sadar sehingga kadang menghindar untuk terlibat dalam proyek yang menyangkut personal interest-nya; baik yang berkaitan dengan keluarga, teman, individu atau lembaga yang memiliki hubungan dengannya. Inilah yang dinamakan conflict of interest.

Karena sulit untuk didefinisikan maka conflict of interest ini senantiasa menjadi daerah abu –abu yang bisa membuat catatan reputasi seorang pemangku jabatan tidak 100 persen bersih. Dalam setiap pekerjaan yang meliputi banyak pihak, pasti ada berbagai kepentingan yang terlibat di dalamnya, baik secara individu maupun lembaga. Karenanya karyawan sebuah lembaga harus bisa berjuang mengatasi benturan kepentingan ini dalam pekerjaannya. Lembaga yang kredibel biasanya sudah menyediakan buku panduan perilaku code of conduct yang menjadi acuan manakala terjadi benturan kepentingan ini. Namun, benturan kepentingan ini bisa begitu halusnya, sehingga sering tidak bisa digariskan oleh panduan-panduan yang tersedia.

Meningkatkan kesadaran

Conflict of interest muncul pada saat pengambilan keputusan, di mana dalam prosesnya banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor yang menyangkut kepentingan pribadi. Tentunya seorang pemimpin mempunyai wewenang untuk mengambil keputusan. Dengan wewenang ini ia diharapkan membuat keputusan yang bijaksana. Di dalam praktik manajemen ada 4 jenis kewajiban, yang bisa mempermudah individu untuk menghindari bahaya benturan kepentingan ini, lepas dari ada tidaknya peraturan:

Duty of care: disiplin pada aturan-aturan tim seperti menghadiri rapat secara teratur dan siap mengeluarkan pendapat, mengajukan pertanyaan yang relevan, dan kalau perlu memanfaatkan ahli-ahli yang independen.

Duty of obedience: patuh terhadap hukum yang berlaku beserta pengembangannya, dan kuat menjaga misi lembaga.

Duty of loyalty: membeberkan conflict of interest yang dihadapi sambil memeriksa peraturan yang sudah dibuat lembaga di waktu yang lalu dan menghindari penggunaan aset lembaga untuk kepentingan pribadi.

Duty of profesionality: mengikuti kode etik profesi baik yang digariskan maupun tidak digariskan, secara obyektif dan independen.

Conflict of interest yang dilatarbelakangi tujuan baik pun tetap saja akan menjadi sebuah konflik. Contoh: seorang pimpinan ingin menaikkan gaji sekretarisnya yang bekerja sangat keras sampai tengah malam tanpa uang lembur. Namun, menurut peraturan, sekretarisnya sudah mendapatkan batas atas dari gaji untuk tingkat kepegawaiannya saat ini. Ia kemudian mengubah judul jabatan sekretarisnya, sehingga golongan kepegawaiannya bisa dinaikkan.

Di mana letak kesalahannya? Ia tidak menjalankan duty of loyalty-nya. Ia sebenarnya bisa membuka masalah ini kepada semua pihak yang bertugas mengurus status kepegawaian dan berdiskusi dengan mereka sebelum mengambil keputusan. Hal ini bisa membuatnya terbebas dari conflict of interest.

Kita juga mengenal adanya aturan dalam kelompok board of directors yang sering bersepakat untuk membuat keputusan yang kolektif kolegial, dengan niat untuk menjaga kebersihan mental dari benturan-benturan kepentingan ini. Ada 3 pilar yang perlu ditegakkan oleh kelompok manajemen tertinggi lembaga atau perusahaan:

Pilar pemahaman bersama mengenai visi dan misi organisasi yang senantiasa ditegakkan kembali oleh setiap anggota kelompok

Pilar pemahaman tugas dan tanggung jawab untuk masing masing anggota kelompok

Pilar kepercayaan satu sama lain di mana setiap kelompok memberi komitmennya untuk berbicara seterang-terangnya dan sejujur-jujurnya.

Tingkatkan transparansi

Kita tidak bisa menutup mata dan berkeyakinan bahwa conflict of interest tidak mungkin terjadi di organisasi kita. Sekecil apa pun perusahaan, hal ini tetap harus diwaspadai.

3 tipe conflict of interest yang sering ditemukan adalah: yang actual sudah terjadi, yang potential kira-kira akan terjadi, ataupun yang perceived, yang dipersepsi oleh orang lain. Semuanya ini perlu kita waspadai dan cegah. Kita perlu mengenali sumber pertentangan kepentingan ini dan mengelolanya.

Kita perlu mewaspadai para stakeholder yang berhubungan dengan organisasi kita, apakah ada supplier atau mitra yang ternyata mempunyai hubungan tertentu dengan anggota organisasi kita, baik itu keluarga maupun saudara jauh. Hal ini untuk menghindari munculnya sikap subyektif dalam pengambilan keputusan yang terjadi.

Kita juga perlu memperhatikan hubungan antar karyawan. Banyak aturan yang hanya melarang pasangan yang sudah resmi menikah untuk berada dalam satu organisasi. Padahal sebelum pernikahan terjadi, kemungkinan conflict of interest terjadi justru sangat besar.

Bila kita sendiri yang khawatir bahwa kita tidak obyektif dalam mengambil keputusan karena merasakan adanya subyektivitas di diri kita, tak ada salahnya kita menunjuk pihak ketiga untuk membantu memperjelas persepsi dan memberikan pandangan yang lebih objektif terhadap masalahnya.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 27 Juli 2019.