Bermesraan dengan AI

Dari kurang lebih 60 pekerjaan yang ada di dunia ini, 30 persen atau bahkan lebih akan mengalami otomasi. Pada tahun 2030, 375 juta manusia di dunia ini harus mengganti sifat pekerjaan mereka. Mesin mesin canggih sudah menggantikan banyak pekerjaan, seperti mengambil data, menganalisis, menjawab pertanyaan pelanggan, dan masih banyak lagi. Setiap perusahaan pada saatnya akan mampu membeli robot cerdas ini dan mengoperasikannya.

Eli Goldratt seorang pakar manajemen lama mengatakan: “Automation is good, so long as you know exactly where to put the machine.” Keberadaan kecerdasan buatan/artificial intelligence (AI) ini memang luar biasa. Otak kita seolah-olah bisa digantikan mesin. Namun, nyatanya penempatan, penggunaan, dan pemanfaatannya masih mengundang berbagai tantangan. Artinya, masih banyak tugas yang harus dikerjakan manusianya. Tugas-tugas yang mengandung empati, tugas mengantisipasi masalah, hanya dimiliki manusia dan belum bisa dipecahkan mesin, bahkan kreativitas yang memang masih didominasi manusia.

Jadi, pemikiran bahwa mesin-mesin cerdas ini akan menggeser manusia bahkan menjatuhkannya, perlu kita koreksi. Kita memang tidak bisa mengandalkan pekerja dengan keterampilan lama. Kita perlu mengembangkan karyawan kita menjadi “hybrid workforce” mengingat sifat pekerjaannya juga akan berbeda.

Cara berbagi peran dan tanggung jawab pun akan berbeda. Berarti, kita memang perlu bersiap menggunakan mesin-mesin AI ini sambil juga mempersiapkan diri dengan keterampilan baru. Tantangan organisasi adalah bisakah mengajak karyawannya untuk beradaptasi dengan situasi baru ini? Bagaimana mentransformasi karyawan agar menguasai keterampilan baru? Bagaimana memastikan manusia dan mesin bekerja sama secara harmonis tanpa rasa enggan, bahkan meningkatkan nilai pekerjaan?

Menciptakan model kerja manusia plus mesin

Sudah saatnya bagi kita mulai memilah-milah tugas, tanggung jawab dan peran. Mana yang bisa diotomasi dan mana yang tetap harus dikerjakan manusia. Saat sekarang pun sudah banyak perusahaan yang memanfaatkan chatbots untuk melayani pelanggan. AI juga bisa menunjang pekerjaan-pekerjaan rumit dengan penyediaan data bahkan analisis yang akurat.

Namun, mesin mesin ini juga perlu dikawal manusia-manusia dengan “human skills“-nya yang memang tidak pernah tergantikan. Pemimpin dan talent managers pun perlu meyakinkan karyawan bahwa dengan kehadiran mesin canggih ini mereka mempunyai waktu lebih yang bisa digunakan untuk mencari tantangan seperti menggarap inovasi baru yang selama ini tidak tertangani karena adanya tugas-tugas rutin. Yang jelas robot adalah robot. Sepintar-pintarnya robot, ada kemampuan manusiawi yang tidak pernah bisa diambil alih.

Yang pasti, kita pun harus mengubah budaya kerja kita. Seorang pelanggan bank mengungkapkan keengganannya ditangani oleh mesin. Para traveller pun banyak yang memilih counter yang dilayani oleh manusia di antrean imigrasi. “Lebih cepat, mesinnya suka eror,” demikian alasan mereka. Kita lihat bahwa fear of change ini bukan saja terjadi pada kalangan pekerja saja. Banyak sekali, termasuk pelanggan, yang tidak siap menghadapi perubahan ini.

Inilah tantangan kita, terutama kalau kita harus mengelola manusia. Area-area baru, seperti design thinking, komunikasi yang berbasis empati, user experience design dan kreativitas, adalah kompetensi-kompetensi yang harus dikejar agar kita bisa hidup berdampingan dan berprestasi dengan segala kecanggihan ini. Bagaimana cara bersiap-siapnya?

Tinggal landas kolaborasi manusia dengan AI

Apakah ada pilihan lain untuk menghindari gelombang kemajuan teknologi ini? Kita sudah berada dalam arus perubahan ini. Satu-satunya jalan adalah mengikuti proses pengembangan kecerdasan mesin ini.

Kita tahu bahwa pengalaman, keterampilan, dan pengetahuan kita memang masih terbatas. Bersamaan dengan itu, kita pun harus melatih koordinasi antara manusia dan mesin cerdas ini. Idealnya, kita perlu duduk bersama dengan berbagai pihak di organisasi, membuat strategi AI, menginventarisasi data yang kita perlukan dan perlu digarap oleh mesin mesin canggih itu, baru mendesain ulang proses bisnis kita sesuai dengan kemampuan mesin-mesin cerdas ini.

Sebuah survei terhadap 1.075 perusahaan dari 12 industri yang berbeda membuktikan bahwa semakin cepat langkah ini diambil, semakin besar keberhasilan bisa diraih. Hal ini dapat diukur dari kecepatan layanan, penghematan, angka penjualan, dan pengukuran operasional lainnya.

Beberapa hal yang perlu dilakukan perusahaan dalam persiapan menggandeng mesin pintar ini adalah sebagai berikut.

Training: Apakah Anda sudah memanfaatkan secara optimal fitur-fitur canggih yang ada di ponsel pintar terbaru Anda? Betapa seringnya kita tergiur dengan produk terbaru dengan teknologi terbaru, namun sebenarnya hanya fitur yang itu-itu saja kita gunakan? Kemajuan teknologi yang kita miliki sering kali tidak diiringi dengan kemajuan kemampuan kita. Di sinilah perlunya manusia juga melakukan pelatihan untuk dapat secara optimal memanfaatkan kecanggihan teknologi.

Explaining: di dunia kedokteran, AI sudah banyak digunakan. Dokter dapat memasukkan informasi ke dalam komputer sehingga komputer dapat membantu menganalisis dan memberi masukan tentang penyakit dengan derajat ketepatan yang semakin lama semakin tinggi. Namun demikian, pasien membutuhkan empati dari dokter untuk menjelaskan mengenai kondisinya dan diskusi mengenai solusi/terapi yang bisa dilakukan sebagai tindak lanjut. Di sinilah harmoni antara manusia dan mesin terjadi. Tanpa mesin, manusia harus menambah pengalamannya bertahun-tahun untuk menguasai logika diagnosis, tetapi begitu diagnosis ditegakkan, manusia jugalah yang perlu menerjemahkan dan memaknainya.

Sustaining: Mesin bisa rusak atau kuno. Kebutuhan masyarakat juga berubah. Di sinilah peranan manusia sangat penting. Contohnya, banyak produsen mobil yang sudah menggunakan AI untuk membantu mengemudi. Namun, pengendara mobil tetap harus waspada apakah robot ini tetap akan digunakan di saat-saat yang tidak terprediksi oleh si robot. Pengguna mobil juga perlu memberi masukan kepada produsen, apakah AI yang digunakan cukup aman, atau justru membahayakan. Algoritma yang diciptakan, masih membutuhkan daya kritis manusia untuk pengembangan.

Karena dibuat dengan berbagai macam keahlian, robot pintar bisa saja melebihi kemampuan satu individu. Namun, tanpa manusia, robot akan tetap menjadi robot yang secara emosional dan futuristis dungu.

Tomorrow’s leaders will instead be those that embrace collaborative intelligence, transforming their operations, their markets, their industries, and—no less important—their workforces.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 8 Juni 2019.