Atasan

Banyak literatur yang membedakan antara pemimpin dan manajer, seolah-olah menunjukkan bahwa manajer berkelas lebih rendah daripada seorang pemimpin. Banyak yang bilang, jadilah pemimpin, jangan berpuas dengan jabatanmu sebagai manajer. Siapa yang tidak ingin menjadi atasan yang adalah manajer sekaligus juga adalah seorang pemimpin tangguh? Namun, bagaimanakah kita bisa menjadi manajer sekaligus pemimpin?

Pernahkah kita mendengar pernyataan, “dia adalah atasan yang terbaik yang pernah saya miliki”? Atau “beliau adalah alasan utama mengapa saya bertahan di organisasi ini”. Hal-hal apa yang bisa membuat anak buah memuji atasannya seperti itu? Apakah karena visi misinya atau justru tindak kesehariannya dalam interaksi dengan mereka?

Hampir bisa dipastikan bahwa yang diingat oleh para anak buah adalah bagaimana interaksi mereka dengan atasannya sehari-hari. Jarang sekali ada yang tersentuh emosinya hanya dari visi misi bila tanpa diiringi dengan tindak nyata. Jadi, sebenarnya kehebatan kepemimpinan seorang manajer bisa dilihat dari bagaimana ia mengelola pekerjaan dan anak buah hingga tuntas, sampai mengembangkan anak buahnya sehingga mereka bisa menjadi lebih dari yang mereka bayangkan.

Mengingat begitu banyaknya populasi manajer di dunia ini, ada baiknya kita memang menelaah apa kualitas efektif seorang manajer dan apa yang membuat ia dikatakan seorang atasan yang baik.

“Sense of control”

Saya memiliki teman yang ditugaskan sebagai GM suatu instansi servis. Ia bisa berbicara dengan anak buahnya, juga melakukan penugasan dengan baik. Sayangnya, ia terlalu positif. Semua kesalahan servis yang dialami pelanggan, baru diketahuinya ketika keluhan sudah datang. Akibatnya kondisi akan menegangkan ketika direktur datang berkunjung. Banyak sekali kesalahan yang tidak disadari oleh bapak GM ini. Semua lembar monitor yang ada dibaca olehnya, tetapi ia memang tidak melihat bahwa menemukan kejanggalan adalah tugasnya. Apakah ia manajer yang baik?

Hal utama yang perlu dimiliki seorang manajer adalah controlling insight. Kemampuan kontrol ini memang tidak bisa memberikan jaminan akan hasil yang selalu baik, tetapi tanpa kontrol tidak mungkin segala sesuatu bisa berjalan dengan baik. Sikap pengontrol ini harus muncul dalam setiap situasi manajemen sehingga kita terbiasa menembus pengindraan kita ke hal-hal yang tidak terlihat ataupun terdengar langsung.

Banyak atasan yang merasa bahwa controlling mencakup 25 persen dari kegiatan manajerialnya, di samping planning, organizing dan actuating. Di sinilah salah kaprahnya. Kita bisa melakukan planning seorang diri, kita bisa mengatur tim dan menggerakkannya, tetapi controlling tidak bisa kita lakukan di ujung proses, hanya seperempat dari pekerjaan kita. Controlling harus dilakukan setiap hari, setiap jam, setiap saat.

Orang menyebutnya sebagai controlling insight yang memenuhi tiga syarat: pertama, kemampuan kontrol ini perlu diterapkan dalam banyak situasi, bukan hanya situasi yang spesifik. Misalnya, seseorang yang hanya kuat mengontrol ban berjalan di pabrik, tetapi tidak bisa mengawasi apa yang dilakukan anak buahnya pada saat istirahat. Seorang manajer yang baik bisa menggunakan segala cara sehingga hampir selalu tahu apa yang perlu diperhatikan.

Kedua, controlling insight seorang manajer harus merupakan suatu daya untuk meningkatkan kinerja, bukan mematikan. Dengan mengontrol, seorang manajer harus menjadi lebih kuat, bukan malah membuatnya tidak disukai sehingga kinerja berkurang.

Ketiga, mengontrol bukan sekadar membuat penilaian dan menemukan salah benar. Kontrol harus mengubah dan membimbing perilaku. Jadi, controlling insight yang dimiliki seorang atasan, hendaknya menjadi kualitas positif yang menyebabkan bawahan merasa bersemangat, tahu arah dan bahkan senang “dikontrol” sehingga muncul komentar seperti “atasan saya selalu tahu kapan saya butuh bantuan” atau “atasan saya selalu bisa melihat kejadian sebenarnya”.

Bermain catur, bukan bermain halma

Halma dan catur sama-sama merupakan permainan yang membutuhkan olah pikiran. Namun, bedanya, dalam halma semua bidak memiliki bobot yang sama sehingga kita hanya memedulikan lapangan dan langkah apa yang akan diambil. Lain halnya dengan catur, yang langkah setiap bidak serta kewenangan dan kemampuannya tidak sama.

Atasan yang baik juga harus mampu menemukan keunikan setiap bawahan dan memanfaatkannya dalam penugasan. Penempatan perlu dilakukan dengan hati-hati. Bila salah langkah, pencapaian target bisa-bisa tidak terjadi. Ia pun perlu tahu cara menyinergikan bawahannya menjadi tim yang baik. Seberapa pun disruptifnya mereka, ia harus bisa mengelola emosi dan kapasitasnya hingga berguna. Dari sini, kita melihat bahwa keahlian seorang manajer yang top adalah kemampuan melihat keberbedaan individual bawahannya.

Ia pun perlu bisa membangun koneksi yang mesra dengan anak buah sehingga ketika harus melakukan pergeseran maupun pergantian peran, anak buah sadar bahwa tindakan ini diperlukan bagi pengembangan diri mereka sendiri. Dengan demikian, ia akan meningkatkan akuntabilitas anak buah karena mereka menyadari perannya dalam organisasi dan kerja tim pun menjadi lebih lancar karena tumbuhnya saling pengertian antara atasan dan bawahan.

Mendongkrak kinerja

Dari beberapa studi dapat disimpulkan bahwa sekumpulan manajer yang baik memang akan mampu mendongkrak kinerja perusahaan. Ada tiga hal yang perlu ia perhatikan, terutama pada saat-saat perusahaan memerlukan energi lebih untuk berubah atau maju.

Pertama, seorang manajer perlu melakukan walking around sehingga selalu memiliki data terkini mengenai kondisi setiap bawahan beserta dengan kesulitan-kesulitan yang mereka hadapi. Kedua, bisa menembus dan tahu persis cara menggerakkan kekuatan anak buahnya sehingga menciptakan hasil yang berdampak positif bagi perusahaan. Ketiga, ia harus tahu bagaimana bawahannya belajar sehingga bisa mendorong peningkatan kapasitas belajar mereka. The ability to implement unique practices that enhance the team’s individual careers is what separates a great manager from a good one.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 13 Juli 2019.