Menjadi yang Tercepat

Sebuah perusahaan yang memulai diri dari satu toko kecil, dalam kurun waktu 30 tahun sudah berkembang menjadi perusahaan retail terbesar, tersehat, dan memiliki cabang terbanyak di seluruh Indonesia. Tentunya banyak kekuatan yang ada pada perusahaan yang dipimpin oleh seorang yang tidak lulus SD ini.

Hal yang paling jelas terlihat menjadi ciri khas perusahaan ini adalah mereka selalu menjadi terdahulu, lebih cepat daripada yang lain. Banyak orang mungkin mengatakan bahwa menjadi tercepat tidak penting. Lebih penting menjadi lebih cerdik (smarter). Bahkan, Presiden petahana kita di debat capres kemarin pun menekankan bahwa kita harus menjadi yang tercepat. Negara yang lebih cepat akan memakan negara yang lamban.

Marilah bertanya pada diri sendiri, apakah kita tercepat dibandingkan teman-teman sekerja? Apakah perkembangan perusahaan kita tercepat dibandingkan perusahaan sejenis lainnya? Apakah perusahaan-perusahaan disruptor ini memang bisa memenangkan pasar karena mereka lebih cepat?

Baca juga: Optimalisasi Manusia

Tampaknya, kita memang harus menganalisis ulang mindset dan mental dalam menghadapi perubahan yang ada. Produktivitas yang beberapa dekade lalu masih berkutat pada masalah kehadiran di kantor, efisiensi kerja dengan ketertiban to do list dan penentuan prioritas, sudah jauh berubah saat sekarang ini.

Ada anak muda yang mengatakan bahwa produktivitasnya lebih tinggi kalau ia bekerja dengan komputernya di kafe sambil ditemani secangkir kopi. Ternyata para disruptor muda ini sudah tidak menganut konsep produktivitas yang lama. Mereka adalah pemikir cepat, berani mencoba, kuat dalam riset dan eksperimen berulang-ulang. Jadi bagaimana konsep produktivitas kita, yang memang mau hidup dan survive di kekinian ini?

Keterhubungan

Para milenial yang bekerja di kafe memang tidak lagi duduk di kantor secara nine to five. Namun, akses mereka pada alat-alat yang dapat mendukung pekerjaannya pasti lengkap. Ia tidak hanya bekerja dengan aplikasi yang ada di komputernya, tetapi juga terhubung dengan penyimpanan data di cloud, serta beragam aplikasi lain yang bisa membantu mempermudah pekerjaannya. Hal ini membuatnya dapat bekerja efisien, cepat, dan sesuai dengan kenyamanan yang ia inginkan.

Meskipun terlihat hanya bekerja sendirian di kafe, bukan berarti ia bekerja secara soliter. Keterhubungannya dengan kelompok dan komunitas melalui beragam jalur membuatnya dapat melakukan monitoring proyek bersama dengan rekan-rekannya. Kenyataan bahwa kantor kita sudah berada di udara ini bisa mempercepat kerja kita, terutama bagi mereka yang melek digitalisasi. Bagi yang belum memulai kebiasaan kerja baru ini, kita tidak perlu gundah karena teknologi membuat perangkat-perangkat ini semakin user friendly.

Cara baru pengambilan dan penyimpanan data

Untuk bisa memanfaatkan secara optimal beragam aplikasi yang berkontribusi pada kecepatan kerja, tentunya cara bekerja kita pun harus berubah. Kita perlu belajar mengorganisasi penyimpanan agar mudah dicari kembali, sistematis dalam menyimpan catatan, berkas, dan data, baik itu berbentuk suara, gambar, maupun teks.

Kita melihat bahwa pemerintah saat sekarang juga sudah berhasil meng-online-kan banyak transaksi sehingga informasi yang dibutuhkan kantor pajak, bea cukai, imigrasi, BPJS, dan lembaga lain bisa tersedia dengan lebih cepat. Data kita, data kelompok, serta data perusahaan bisa diakses dan dilindungi sesuai dengan kebutuhan kita. Bahkan catatan keuangan, sistem akunting, baik pribadi maupun perusahaan sudah bisa dilakukan secara instan dengan bantuan perangkat-perangkat jurnal daring. Lagi-lagi, kita memang perlu mengubah mental dan cara pikir kita sehingga cara dan sistem kerja kita menjadi efisien, kekinian dan cepat.

Baca juga: Dari Start-up menuju Unicorn

Cara berpikir if this, then that (IFTT)

Musuh utama kerja yang kekinian adalah ketika kita masih berpatokan dengan masa lalu. Dalam organisasi, tidak hanya pemimpinnya yang perlu mempunyai visi ke depan. Semua individu dalam organisasi perlu melihat ke depan dan berpikir antisipatif. Semua orang perlu berpikir apa dampak dari tindakannya pada masa depan untuk dapat langsung memikirkan langkah selanjutnya.

Budaya kita saat ini adalah budaya curiosity, passion, dan perseverance. Semua orang harus menganggap pengalaman sebagai pembelajaran serta mengerti hasil yang harus diwujudkan. Semua orang berintegritas dan menaruh respek satu sama lain, serta berupaya menjadi thought leaders. Mental “ancang-ancang” ini memang harus dikembangkan karena semua orang harus mengantisipasi perubahan yang setiap saat bisa terjadi.

Kuat dalam manajemen proyek

Pada zaman sekarang, kita tidak lagi membutuhkan banyak ide dan strategi yang terlalu rinci bila tanpa disertai rencana eksekusi yang nyata. Memang, pemimpin yang terlalu banyak berorientasi ke eksekusi akan terlihat sebagai pemimpin yang kurang strategik dan kurang visioner.

Namun, kita sudah tidak bisa lagi bermewah-mewah dengan rencana jangka panjang. Kita harus memecahnya ke dalam proyek-proyek jangka pendek dengan tenggat waktu yang ketat. Semua harus selesai dengan sempurna. Oleh karena itu, individu dan organisasinya perlu selalu mengecek dan mempunyai dashboard tentang perkembangan terkini. Bila ada hambatan di tengah jalan, kita harus cepat bertindak. Hanya dengan cara inilah kita bisa agile, lentur, dan fleksibel.

Cepat pahami dan ubah kebiasaan kita

Mengubah kebiasaan lama tidak mudah, tetapi mau tidak mau ini harus dilakukan pada zaman ketika perubahan terus terjadi dengan sangat cepat. Kita tidak bisa berpatokan pada sistem dan prosedur lama. Kita harus terus meninjau kembali praktik-praktik lama, bahkan dituntut untuk terus berinovasi dan mempersingkat proses.

Perubahan kebiasaan sudah harus menjadi sistem di dalam mindset kita. Senantiasa pertanyakan: adakah jalan lain yang lebih efektif untuk melakukan ini? Apakah hal-hal kecil yang perlu dilakukan ini masih masuk akal? Perhatikan energi kita, bukan semata tugas-tugas kita. Belajar dari setiap sel terkecil dari badan kita yang terus-menerus berubah. Panta rhei!

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 6 April 2019.