Dicari: Manusia Bijaksana

Baru-baru ini, kita digemparkan dengan cuitan seorang CEO perusahaan besar yang begitu kontroversial sampai-sampai menyebabkan “rating” minat ke perusahaannya menurun drastis. Salahkah pernyataan CEO ini? Mengapa orang sepandai dan sesukses ini bisa terpeleset dalam membuat “statement” yang berisiko?

Di sini kita melihat bahwa orang yang superinteligen pun, bisa jatuh karena kurang bijaksana. Apakah dengan banyaknya kita terobsesi pada layar kaca dan peralatan elektronik,  membuat kita lupa mempelajari kebijaksanaan? Padahal dengan berkembangnya artificial intelligence (kecerdasan buatan/AI), kita mengklaim: We’re more than just intelligent machines.

Baca juga: 5 Hal Penting Sebelum Resign dan Bekerja di Tempat Baru

Gejala ini sudah diramalkan Isaac Asimov pada 1988, “The saddest aspect of life right now is that science gathers knowledge faster than society gathers wisdom.” Bahkan Elon Musk, si raja disruptor penemu Tesla, mobil tanpa pengemudi ini, juga mengatakan bahwa penciptaan AI ini perlu dikontrol dengan sikap waspada.

Namun, para futuris barat ini pun tidak secara jelas mengekspresikan bagaimana cara meningkatkan budi manusia ini agar tetap setara dengan akalnya. Aristoteles, filsuf Yunani, pernah mengemukakan konsep phronesis yang pada dasarnya adalah sikap mental untuk menjadikan pengalaman sebagai kebenaran: “A true and reasoned state of capacity to act with regard to the things that are good or bad for man.”

From knowledge to wisdom

Kita semua tahu bahwa kebijaksanaan tidak bisa dipelajari hanya dari buku ataupun bangku sekolah saja. Ikujiro Nonaka dan Hirotaka Takeuchi, dua profesor penulis The Knowledge Creating Company, menggambarkan bagaimana pengembangan kebijaksanaan itu ditumbuhkan di Jepang. Mereka mengemukakan konsep practical wisdom, yang kurang lebih sama dengan konsep phronesis Aristoteles, bagaimana seseorang belajar untuk membuat penilaian yang masuk akal dan benar.

Di Jepang, hal ini dikenal sebagai toku, kebenaran yang disetujui bersama dan membawa kita ke moral excellence yang lebih baik. Sementara di India, ada konsep yukta yang artinya just right atau “pas”. Kedua professor ini mengemukakan bahwa ada enam kompetensi yang perlu dikembangkan individu bila ia ingin lebih bijaksana dalam pemanfaatan tacid knowledge-nya.

Baca juga: Keseruan Berkarier di Dunia Merek

Enam jalur menuju kebijaksanaan

Pertama, definisikan “kebaikan” dengan benar, seperti layaknya seorang idealis, dan mempraktikkannya secara nyata. Keputusan mengenai tindakan baik atau buruk ini perlu datang dari hati, sesuai dengan nilai yang dianut individu.

Shoei Utsuda, Chairman of Mitsui & Co, menyarankan untuk selalu bertanya sebelum mengambil keputusan, “Is what i am attempting to do will give good quality work (yoi shigoto) for the company and society?” Keputusan-keputusan pribadi yang tidak mempertimbangkan kepentingan masyarakat yang lebih luas dan masa depan, pada akhirnya akan membuat kita gagal.

Tadashi Yanai, CEO Uniqlo, mengatakan, kebaikan adalah sikap untuk hidup harmonis dengan masyarakat, diterima, dan berkontribusi ke masyarakat dan masa depan. Tanpa tujuan dan tingkah laku untuk berbuat baik, perusahaan kita tidak akan bertahan lama. Yanai memelihara sikap baik di perusahaannya dengan mengajak semua karyawan belajar dari pengalaman, terutama kesalahan dan kesulitan. Ia menganjurkan setiap orang mempunyai catatan sendiri mengenai apa yang baik dan apa yang harus diperbaiki. Semua ide harus dipraktikkan dan dilakukan berdasarkan standard of excellence yang optimal.

Kedua, temukan esensi dari setiap kejadian atau situasi, seperti layaknya seorang filsuf. Kita tidak perlu mengelak, marah, atau bahkan mengabaikan kenyataan pahit di lingkungan. Kita mesti belajar menerima kenyataan yang ada.

Ketika Ratan Tata, pemimpin Tata Group, menyaksikan sebuah keluarga sejumlah lima orang menaiki 1 sepeda motor, ia menciptakan mobil seharga 2.500 dollar AS ketika harga sebuah mobil kecil saat itu minimal 12.500 dollar AS sehingga memenuhi daya beli masyarakat umum di India. Belajar menemukan esensi seperti yang dilakukan oleh Toyota, yaitu karyawan diajarkan untuk menanyakan 5 kali “WHY”  untuk setiap kejadian, yang membawa individu lebih dalam ke esensi masalahnya.

Ketiga, latihan berhipotesis seperti seorang ilmuwan profesional. Kita perlu melakukan sesuatu berdasarkan keyakinan kita tentang apa yang terjadi di depan. Bila kemudian meleset, kita akan merasakan kegagalannya dan belajar dari kesalahan. Ini lebih baik daripada tidak pernah melakukan sesuatu berdasarkan perkiraan kita.

Di Seven Eleven Jepang, seorang pelayan toko yunior sekalipun ditugaskan untuk melakukan pembelian barang di tokonya, berdasarkan perkiraan barang apa yang sering dibeli pelanggan. Dari sini, mereka belajar melakukan antisipasi dan berlatih merasakan sendiri kadar ketepatannya.

Keempat, belajar dari satu sama lain. Kita tidak bisa belajar meningkatkan kebijaksanaan kita secara mandiri. Jadi, mengobrol dengan pelanggan, pasangan, rekan kerja, atau teman seprofesi sangat dibutuhkan. Dalam budaya Jepang, kegiatan ini dinamakan ba, kegiatan mengobrol yang dilakukan sesudah jam kerja. Dari cerita ngalor-ngidul ini, kita juga bisa menarik pelajaran bermanfaat.

Kelima, mengomunikasikan apa yang kita yakini dalam bentuk cerita yang menarik, seperti seorang novelis. Kita bisa menggunakan metafora maupun perumpamaan, untuk membuat ide diterima dan menggugah orang lain bertindak. Di sini, kita belajar bahwa belajar itu tidak selalu dari hal-hal yang kuantitatif, tetapi juga kualitatif. Jadi, tidak heran bahwa ada riset yang menyatakan bahwa CEO yang sukses memiliki hobi membaca novel. Ini akan membantu kita untuk menyusun kata-kata dan membuat imajinasi kita lebih hidup. Communication is critical to bring dreams to life.

Terakhir, seorang bijaksana tidak pernah boleh merasa paling bijak sendiri. Ia juga harus menghargai pendapat dan kebijaksanaan orang lain. Ketika Soichiro Honda mengumumkan peluncuran produk baru untuk mengalahkan kompetitornya, salah satu anak buahnya memprotes. Ia mengatakan bahwa seharusnya mereka mengembangkan mesin ini untuk memenuhi tanggung jawab sosial mereka kepada pelanggannya dan mereka melakukan ini untuk anak-anak mereka. Honda terpana dan merasa malu. Tak lama kemudian ia mengumumkan pengunduran dirinya.

Kita lihat, di zaman AI ini, kebijaksanaan tetap harus dikembangkan melalui fenomena-fenomena kemanusiaan yang justru bisa membuat kita utuh dan membuat dunia lebih bahagia.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Foto: Shutterstock.com

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 16 Maret 2019.