Like and Dislike

Social media presence sering dianggap oleh individu sebagai ukuran popularitasnya. Like and dislike dianggap menjadi ukuran dan penting. Orang sampai melakukan apa saja demi content media sosialnya, berusaha mendapatkan “like” sebanyak-banyaknya dan merasa kecewa ketika mereka yang diharapkan memberikan “like” ternyata tak acuh saja.

Pada era media sosial ini, orang sepertinya bisa dengan mudah “menghitung” seberapa ia disukai oleh lingkungannya melalui berapa “like” yang didapatkan dari tayangan di media sosialnya. Dari sini, orang sering mengukur seberapa menariknya dia di mata teman atau relasi sepergaulannya.

Mengapa kita melakukan ini? Apakah kita seorang yang introver, tidak butuh bergaul, ataupun ekstrover yang memang suka bergaul, kita pasti akan merasa tidak nyaman bila merasa tidak disukai. Walaupun ada yang bersikap masa bodoh dan tidak peduli tentang sikap orang lain kepadanya, secara psikologis, kita memang lebih butuh untuk disukai.

Hal ini karena rasa bahagia akibat disukai oleh orang lain akan memproduksi hormon endorfin dalam tubuh kita yang bisa meningkatkan kekebalan tubuh dan mengurangi stres. Penelitian mengatakan bahwa rasa suka sangat menentukan kerja tim, bahkan dalam memersuasi orang ataupun bernegosiasi, perasaan sering memainkan peranan penting.

Dari mana datangnya rasa suka-tidak suka?

Pertama-tama, kita perlu menyadari bahwa rasa suka dan tidak suka ini tidak obyektif, artinya  sangat subyektif. Kita tidak bisa bertanya kepada seorang teman, “Saya sudah begitu baik kepadamu, tetapi mengapa kau tidak menyukaiku?” Bisa saja bukan kebaikan itu yang diinginkan olehnya, apalagi kebaikan yang diberikan dengan harapan mendapatkan timbal balik. Bahkan, ada yang merasa “risih” bila ada yang bersikap terlalu baik kepadanya. Being a “nice person” is only a small part of being likable.

Seseorang juga bisa saja disukai di lingkungan tertentu, tetapi sulit sekali untuk diterima di kelompok sosial yang lain. Bisa saja ia berada di kelompok sosial yang salah. Ada kelompok-kelompok sosial yang memang begitu inklusif sehingga tidak mudah dimasuki oleh individu asing, apapun yang dilakukan si individu baru ini, akan tetap terlihat salah oleh anggota kelompok yang lain. Bisa dikatakan bahwa ada chemistry kelompok yang tidak cocok dengan individu tersebut.

Setiap orang mempunyai alasan tersendiri mengapa ia menyukai atau tidak menyukai orang lain. Ada saja orang yang tetap menyukai atasan, bawahan, atau teman sekerja yang sikapnya sarkastik, sombong, dan kasar, sementara orang lain enggan berdekatan dengannya. Setiap orang memiliki temperamennya sendiri, kepekaan, dan suasana hatinya sendiri. Dari faktor-faktor inilah biasanya rasa suka dan tidak suka ini muncul.

Orang yang menderita karena merasa tidak disukai sering memiliki asumsi yang salah tentang alasan orang tidak menyukainya. Keterampilan untuk memitigasi diri sendiri dan lingkungan ini memang perlu dikembangkan dari waktu ke waktu dan tidak pernah boleh berhenti agar respek ke diri juga semakin meningkat.

Kita perlu mengembangkan keterampilan untuk membaca sinyal-sinyal sosial, menimbang-nimbang timing yang tepat, menyadari perbedaan norma sosial, dan peka terhadap dampak setiap tindakan kita sehingga bisa beradaptasi dengan tepat.

Baca juga : Jangan Biarkan Stres Mengganggu Produktivitas

Mengendalikan rasa suka dan disukai

Dalam kesibukan yang padat penuh ketegangan, debat, dan kadang konflik pendapat, bisakah kita tetap mengatur agar hubungan tetap baik? Bisakah kemarahan tidak kemudian dilanjutkan dengan rasa tidak suka?

Ada beberapa hal yang bisa kita pegang sebagai prinsip, seperti fokus pada niatan untuk menjadi manusia dengan kualitas yang lebih baik. Hal ini bisa ditingkatkan melalui kualitas-kualitas pribadi, seperti sense of humor, kehangatan, kesamaan pikiran dan pendapat yang bisa kita kembangkan secara terus menerus. Hal lain yang perlu juga kita sadari adalah setiap orang memang tidak sama dengan kita, baik karakter, nilai, kebiasaan, maupun seleranya.

Kita pun bisa menerapkan beberapa prinsip yang biasa dipegang oleh mereka yang sedang berusaha mendekati orang lain. Pertama, the principle of liking: orang akan lebih suka pada orang yang menyukai dia. Jadi, kita memang perlu lebih sering menunjukkan rasa suka, tentunya secara tulus, tanpa menunggu balasan. Hal ini bisa dibuktikan oleh orang yang berjualan, biarpun ditawar atau diberi komentar negatif dalam bertransaksi, mereka tetap dapat tersenyum sopan.

Penelitian menunjukkan bahwa orang-orang seperti itu lebih laku berjualan daripada mereka yang tidak simpatik. Similarity and praise adalah dua hal yang bisa kita perbanyak bila ingin mengembangkan atmosfer positif ini.

Prinsip kedua, the principle of reciprocity. Walaupun ada pepatah “air susu dibalas dengan air tuba”, kita tetap bisa memegang prinsip bersikaplah kepada orang lain sebagaimana Anda ingin orang lain memperlakukan Anda.

Prinsip terakhir, the principle of consistency. Konsistensi antara kata dan perbuatan, juga antara apa yang kita ucapkan dan janjikan dari waktu ke waktu, tentunya akan lebih dihargai orang. Oleh karena itu, pentingnya talk the walk, tidak sekadar mengatakan hal-hal yang dianggap bisa membuat Anda terlihat hebat, tetapi juga sebenarnya bukan preferensi Anda. Anda perlu lebih jujur dengan mengatakan hal-hal yang memang dilakukan.

“Balancing the act”

Orang-orang yang simpatik dan disukai biasanya mampu mengombinasikan sikap hangat sekaligus kuat, dalam kesehariannya. Kesan akan kehangatan individu bisa didapatkan semenjak detik pertama dalam interaksi langsung dengan individu.

Oleh karena itu, senyum adalah senjata yang paling ampuh. Namun, sesudahnya, tentu kita juga perlu transparan, jelas, dan jernih dalam menerapkan nilai serta prinsip kita dalam interaksi bersama tersebut. Orang juga bersimpati pada orang yang tidak hanya “omdo” (omong doang), tetapi juga menguasai detail dan bisa turun tangan. Selain itu, bila mempunyai bawahan, tidak ada salahnya kita banyak menyampaikan apresiasi atas kerja kerasnya.

Sebagai pemimpin, kita sering membuat keputusan yang tidak populer. Namun, bila konsisten, tidak pilih kasih, dan berlandaskan pada prinsip yang jelas, mudah-mudahan anak buah pun bisa memahami dan menghargai keputusan kita.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 9 Maret 2019.