Personal Excellence

Betapa kita di dalam kehidupan sehari-hari sering mendiamkan segala sesuatu yang tidak sempurna. Menunggu terlalu lama, padahal tidak banyak pelanggan yang harus dilayani. Menerima saja pesanan yang tidak 100 persen seperti keinginan kita sekalipun. Sebagai atasan pun, bisa jadi kita tidak berani bersikap terlalu menuntut pada anak buah yang pekerjaannya tidak sempurna, padahal kita tahu bahwa mereka bisa lebih baik lagi.

Kita sering mempertanyakan: mengapa kita tidak bisa memiliki kualitas dan standar seperti negara Jepang? Namun, pernahkah kita bahkan bertanya kepada diri sendiri: sudah cukup disiplinkah saya dalam menjaga standar perilaku sendiri? Apakah saya sudah berjuang mati-matian untuk melakukan yang terbaik dan mendapatkan hasil yang terbaik?

Pembicaraan mengenai excellence timbul ketika kita sudah siap dalam mengembangkan mental disiplin sambil berkolaborasi dengan aturan-aturan yang ada. Bila tidak, kriteria excellence ini akan tetap samar. Excellence ini bukan kejuaraan dan bukan kesuksesan. Kejuaraan dan kesuksesan adalah situasi-situasi di mana kita membandingkan diri kita dengan pihak lain. Sementara itu, excellence adalah kemenangan terhadap peperangan batin di dalam diri kita sendiri.

Excellence is achieved by providing more than expected. Bisa kita bayangkan bila para pelaku servis di sebuah bank hanya mengikuti prosedur dan ketetapan perusahaan dalam memberikan servis kepada para nasabahnya, bagaimana ia dapat “mengikat” hati nasabahnya melalui servis yang hanya sesuai SOP tersebut?

Seorang komedian yang genius Steve Martin mengatakan, “Be so good they can’t ignore you”. Artinya, bila seorang sudah menemukan celah untuk berkinerja yang terus meningkat dan ia tidak berhenti mengejar situasi yang terbaik, yang bukan dikarenakan tuntutan perusahaan melainkan oleh dirinya sendiri, inilah yang disebut sebagai excellence.

Orang yang menginginkan kinerja terbaik selalu berusaha mencapai lebih dari yang diharapkan. Bukan sekadar pencapaian ini yang menjadi sasarannya, ia memang meyakini bahwa excellence ini akan memperkaya kualitas hidupnya. Jadi, excellence ini adalah sebuah prinsip seperti yang dikemukakan Aristoteles: ”Excellence, then, is not an act, but a habit.”

Perbaikan terus-menerus

Ketika individu sesekali melakukan kesalahan atau menemui kesulitan, ia biasanya akan berjanji pada dirinya sendiri untuk memperbaiki diri atau kinerjanya. Namun, kenyataannya tidak banyak orang yang mati-matian memperbaiki diri. Kebanyakan ungkapannya sekadar lip service, basa-basi.

Orang yang benar-benar ingin membentuk diri dan hidupnya menjadi lebih baiklah yang bisa mencapai tingkat excellence. Dan, situasi ini biasanya ada pada individu yang sudah mencanangkan sasaran kualitas hidupnya, misalnya ingin memberikan yang terbaik buat para pelanggan, perusahaan, profesinya, ataupun pada masyarakat luas.

Seorang pelari jarak jauh Roger Bannister adalah pelari pertama yang berhasil memecahkan rekor lari 1 mil dalam 4 menit. Setelah prestasinya ini, orang baru sadar bahwa hal tersebut bisa diraih. Sesudah itu, banyak individu mengikuti jejaknya. Di sini, kita bisa membuktikan bahwa excellence hanya bisa dipelihara dengan keyakinan yang kuat. Keyakinan yang perlu kita bangun bahwa kemungkinan-kemungkinan baru selalu terbuka di depan mata, seperti kata Bannister: “The man who can drive himself further once the effort gets painful is the man who will win”.

Walaupun optimistis, kita tetap perlu melihat hidup dan prestasi sebagai hal yang bukan didapatkan karena bakat dan keberuntungan saja. Bukan pula sebagai hadiah atau anugerah yang akan tetap membuat kita berprestasi terus. Untuk tetap excellent, kita perlu senantiasa mendobrak halangan mental, seperti ketakutan, kekhawatiran, dan bahkan fear of success, keengganan untuk terlalu menonjol di antara masyarakat.

Excellence perlu dipertahankan dengan mentalitas kuat. Bayangkan diri kita harus melompat ke dalam kolam air dingin. Ada orang yang langsung menceburkan dirinya, tetapi ada juga orang yang berusaha meraba rasa dingin dari jari kaki, baru perlahan-lahan masuk ke dalam air. Kita selamanya perlu memelihara rasa berani dan tidak takut tantangan.

Passion, kerja keras, dan talenta

Jiro Ono adalah seorang chef yang sudah terbukti hebat dan mengantongi peringkat tertinggi Michelin di dunia. Untuk duduk di restorannya, kita perlu melakukan reservasi berbulan-bulan sebelumnya. Kita akan dilayani oleh Jiro sendiri, yaitu ia akan mengecek ekspresi kita ketika melahap sushi buatannya.

Banyak calon chef yang magang ke Chef Jiro ini. Meskipun gratis, tidak banyak yang bisa bertahan sampai 10 tahun. Ada muridnya yang melakukan 400 kali pembuatan telur dadar sebelum akhirnya Jiro meluluskannya. Ketika dianggap lulus, ia menjerit dan menangis kegirangan. Excellence hanya bisa dicapai dengan kegagalan lalu mencoba lagi yang tidak ada hentinya.

Jiro mengungkapkan bahwa kita tidak perlu takut untuk mengerjakan hal yang rutin, berulang, dan dalam waktu yang panjang sekalipun. Hanya dengan cara itu, kita bisa menguasai suatu keterampilan dengan excellent. Saat sekarang banyak orang yang merasa bahwa kreativitas adalah mengerjakan hal yang keluar dari kebiasaan. Padahal, untuk mencapai excellent creativity, kita perlu menguasai dulu apa yang dikerjakan, baru bisa memodifikasinya.

Anjuran Jiro untuk tidak mempunyai plan B, tetapi tetap berfokus pada plan A sungguh “out of the box“. Buat Jiro, kita tidak boleh memiliki pilihan lain dalam benak kita, kecuali melakukan sesuatu hal lebih baik daripada sekarang. Kita tidak pernah boleh puas dengan hasil kerja kita. Kita pun perlu mengecek tentang penilaian orang terhadap hasil karya kita. Hanya melalui penilaian dan pengukuranlah kita bisa tahu apakah kita masih maju atau sudah stagnan.

“The will to win, the desire to succeed, the urge to reach your full potential… these are the keys that will unlock the door to personal excellence.” — Confucius

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 2 Februari 2019.