“LQ: Love Quotient”

Menyaksikan presiden berjongkok dan berusaha menyalami sebanyak mungkin alumni, mendatangi para senior, turun dari mobil menyalami kerumunan orang yang begitu berharap untuk bisa berfoto ataupun sekadar bersalaman pada acara deklarasi kemarin, sungguh menimbulkan rasa hangat. Terasa kecintaan rakyat terhadap pribadi pemimpinnya ini.

Hal yang kurang lebih sama, terlihat pada sosok almarhum Bung Karno dulu, yang diceritakan sering berjalan bertamu ke rumah-rumah penjaga istana dan dengan santai mencomot gorengan tempe yang baru dimasak. Spontanitas ini kelihatannya sederhana, tetapi inilah yang membuat kita mengagumi dan tetap menghormati, bahkan mencintai sosok pemimpin ini.

Sebaliknya, kita menemukan pemimpin yang hambar, yang tidak bisa dengan mudah merajut sambung rasa dengan orang lain. Mungkin dengan orang-orang dan keluarga terdekatnya sendiri ia tidak mempunyai masalah, tetapi terasa sekali hubungan berjarak yang tidak tulus dan hangat dengan bawahannya. Gejala seperti ini pun bisa terasa pada saat individu seperti ini harus berbicara di depan publik. Semua yang dikatakan bisa bagus dan kita setujui, kita mengakui bahwa ia pandai, tetapi kita tidak jatuh hati pada personanya, apalagi tergerak mengikutinya. Apa yang tidak dimiliki individu seperti ini?

Jack Ma, raja dagang digital, yang juga salah satu orang terkaya di dunia, mengajukan konsep LQ, love quotient, yang ia yakin dibutuhkan oleh dunia masa depan. “To gain success, a person will need high EQ; if you don’t want to lose quickly, you will need a high IQ, and if you want to be respected, you need high LQ — the IQ of love.” Menurut Jack Ma, love quotient ini mengukur kapasitas orang untuk mendekati dan bersikap baik kepada orang lain, seolah-olah orang lain itu adalah keluarganya. Seorang pemimpin pasti membutuhkan pengikut. Namun, berapa banyak pengikut yang benar-benar mengikuti dengan hatinya? Yang bergerak tanpa adanya janji-janji yang harus diumbar oleh pemimpinnya? Inilah yang ingin diraih oleh Aruna Bahuguna, perempuan pimpinan pertama sekolah kepolisian India. One should be human and humane to gain respect, else no success is worthy. Ia percaya pada kasih sayang dan menerapkannya dalam pendidikan militer.

Jack Ma meyakini bahwa Love Quotient adalah kapasitas manusia yang tertinggi, yang justru merupakan kekuatan kita untuk menang terhadap mesin tercanggih apa pun. “A machine does not have a heart, does not have soul, and does not have a belief. Human beings have the souls, have the belief, have the value; we are creative, we are showing that we can control the machines.”

Kemampuan menyayangi ini bisa jadi terlihat terlalu sederhana sehingga sering kita sepelekan, taken for granted. Namun, ternyata bagi orang yang tidak biasa, kapasitas ini merupakan hal yang justru paling sulit dikembangkan bila kita sudah dewasa dan tidak terlatih.

Apa itu “love quotient”?

Sejauh ini, belum ada definisi gamblang untuk love quotient ini. Roberto Benigni dalam filmnya, Life is Beautiful, menceritakan bagaimana kecintaan seorang ayah kepada anaknya sehingga ia membuat kehidupan di kamp Nazi seolah-olah adalah sebuah permainan agar anaknya tidak merasa ketakutan. Dampak dari keterampilan ini sungguh luar biasa. Chris Wise, seorang penulis mengungkapkan pengalamannya selama di penjara, bagaimana ia bisa bertahan dalam kehidupan yang penuh kekerasan di sana hanya dengan mempraktikkan love quotient ini. LQ adalah alat humanitas yang tidak sekadar untuk dipahami, tetapi juga untuk diekspresikan dengan benar.

Para ahli biologi mengungkapkan adanya berbagai hormon yang diproduksi otak ketika seseorang mengeluarkan reaksi. Ada selfish chemicals endorfin dan dopamin, yang bisa disamakan dengan hormon yang menguasai otak binatang sejenis reptil, yang sama sekali tidak mengenal konsep berbagi, memberi, apalagi mengalah. Pada manusia, kita bisa menemui tingkah laku ini pada saat berperang, bersaing, atau marah-marah. Kita sering menyebutnya sebagai killer instinct. Sebaliknya, bila kita mengalami hubungan interpersonal dan menikmatinya, hormon yang diproduksi otak adalah serotonin dan oksitosin, yang menyebabkan rasa senang, bersyukur, dan menimbulkan kesan yang positif.

Banyak orang yang memandang rasa cinta ini secara sempit, dan mengaitkannya pada hubungan romantis atau hubungan dalam keluarga saja. Padahal, rasa cinta ini jauh lebih luas. Rasa cinta ini mengandung energi. Tanpa rasa cinta yang tulus, seorang pemimpin tak akan mampu memengaruhi pengikutnya. Ia juga membutuhkan rasa cinta untuk bisa mendengar dan mengakui kekuatan orang lain serta belajar dari mereka tanpa memandang siapa mereka.

LQ bisa dikembangkan melalui dua cara. Pertama, kita perlu memperluas pemahaman kita mengenai cinta dan karakteristiknya. Kemudian, mempraktikkannya dengan intensif, mulai dari diri sendiri, baru meluas ke orang di sekitar dan kemudian ke teman kerja, pelanggan, dan orang asing. Seseorang yang sudah cukup mencintai diri sendiri, lengkap dengan segala kekurangan dan kelebihannya, barulah siap memberi. Ia tidak lagi berfokus pada dirinya, bagaimana ia dipandang oleh orang lain. Rick Stanton dan John Volanthen adalah dua relawan penyelam yang mempertaruhkan hidupnya untuk menemukan 13 orang yang terperangkap di Gua Tham Luang, Thailand. Sepanjang proses penyelamatan, mereka terlihat fokus bekerja dan sedikit sekali berbicara di depan wartawan yang penasaran. Dasar dari pengorbanan yang dilakukannya adalah rasa cinta, bukan sekadar membentuk citra diri. Inilah yang membedakan seseorang dengan love quotient yang tinggi dengan yang tidak.

Love is meant to be a selfless act. Dunia ini, di lingkungan bisnis ataupun politik membutuhkan adanya sikap yang selfless. Bisa kita bayangkan bila dunia ini dipenuhi oleh individu-individu yang self centered. Kita perlu membekali lingkungan sosial sekitar kita dengan kemampuan love quotient, dan hal ini hanya bisa dilakukan oleh individu-individu yang berpikiran positif. “Ultimately, business is meant to be shared in order to flourish.”

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 19 Januari 2019.