Mindfulness

Kita dan pikiran kita sangat sibuk. Belum selesai dengan penuntasan solusi suatu masalah, kita sudah harus melompat ke masalah lain. Perhatian kita pun tidak bisa terfokus pada satu hal, distraksi berlangsung simpang siur di depan mata. Kita tidak mau ketinggalan segala sesuatu yang berhubungan dengan kemajuan teknologi. Tidak ada lagi orang bekerja nine to five saja. Tenggat waktu, jam kerja yang panjang, dan multitasking akhirnya menjadi gaya hidup orang bekerja masa kini.

Lalu, kita mulai tidak mengingat apa yang dikatakan orang lain selagi rapat. Kita bekerja seperti robot, makan di meja kerja tanpa menikmati rasa makanannya, menyetir kendaraan tanpa menyadari apa yang terjadi di sekeliling kita. Kita lebih banyak memelototi telepon pintar daripada menikmati kebersamaan dengan teman kerja atau anggota keluarga.

Hampir seluruh perilaku kita digerakkan tanpa kesadaran penuh. Semua hampir otomatis. Belum lagi reaksi-reaksi kita. Katakanlah kita sedang menyetir kendaraan, tiba-tiba muncul motor dengan kecepatan tinggi menyalip kita. Reaksi otomatis kita biasanya adalah memaki, bisa dalam bentuk kata-kata maupun pikiran. Situasi seperti ini menunjukkan bahwa otak kita memang sudah dipenuhi dengan kumpulan reaksi yang didasari atas asumsi yang sudah tertanam. Lama-lama otak kita bekerja secara autopilot: tidak perlu dikendalikan lagi.

Beginilah cara kerja otak manusia modern, terutama yang hidup di era digital ini. Banyak orang yang merasa dan mengeluh bahwa otaknya penuh, pikiran simpang siur, tetapi tidak bisa menghindarinya. Padahal, kita tahu bahwa sebagai makhluk ciptaan Tuhan yang tertinggi, kita dibekali kekuatan mental yang luar biasa. Namun, ada kekuatan lain yang sering kita lupakan, yang kalau dikembangkan bisa menguatkan cara pikir kita: mindfulness, finding the focus.

Mematikan fungsi “autopilot” otak

Mari kita lihat kekuatan otak selain inteligensi dan imajinasi. Sering kali, kerja otak kita demikian simpang siur karena pekerjaan, pergaulan, urusan keluarga, bahkan politik. Meskipun demikian, kadang kita bangga bahwa otak kita bisa menampung begitu banyak permasalahan. Kita bahkan membiarkan otak kita menambah lagi konsumsinya dengan e-mail dan komunikasi dalam grup dan pergaulan di media sosial sehingga otak kita yang sudah terbebani semakin terseok-seok mengikuti kehendak hati kita. Kita sudah tidak lagi memberi waktu istirahat yang cukup kepada otak kita.

Para penerjun menceritakan bahwa ketika berada dalam keadaan terbang, fungsi otak mereka menjadi berbeda. Mereka tidak mempunyai beban pikiran, rasa gembira memuncak, pikiran kosong, tetapi terasa adrenalin mengalir deras. Sesampai di darat, biasanya para penerjun merasakan stres pekerjaan berkurang dan pikiran lebih bebas dan jernih.

Dalam kehidupan sehari-hari, terutama kehidupan kerja, kita perlu meningkatkan kapasitas berpikir kita untuk bisa meningkatkan fokus. Hal ini juga sangat penting untuk meningkatkan kreativitas dan inovasi. Kerja otak kita selalu menjalankan dua fungsi. Fungsi konvergen di mana kita mengambil kesimpulan atas apa yang kita observasi dan pelajari, dan fungsi divergen di mana kita mengeksplorasi, mengamati, mencari informasi.

Kedua fungsi ini seharusnya berjalan secara simultan. Individu terkadang tidak menyadari keseimbangan jalannya otak ini. Ia bisa mengambil kesimpulan terlalu berlebihan, tanpa asupan informasi yang cukup. Ia tidak mengoptimalkan fungsi divergen otaknya. Bisa kita bayangkan betapa orang yang demikian akan miskin kreativitas. Alih-alih berinovasi, ia menjadi orang yang judgemental: cepat membuat kesimpulan.

Salah satu cara untuk menanggulangi gejala ini adalah berlatih melakukan fokus. Paling tidak kita jadi lebih sadar terhadap emosi dan pola reaksi yang destruktif sebelum kita bereaksi. Kita perlu membangkitkan kesadaran bahwa kita perlu menyehatkan otak. Kita perlu mengerem fungsi autopilot otak kita dengan sedikit menenangkan diri, menyadari bagaimana jalan fungsi otak kita, dan dari sana kita menyadari bahwa banyak ide yang belum tuntas, yang kemudian sudah ditumpuk dengan ide baru lagi.

Tingkatkan daya observasi kita

Kita bisa memulai hari dengan membiasakan diri tidak melakukan apa pun selama lima menit. Usahakan mengenal pancaindera kita dengan lebih intensif, merasakan suhu tubuh kita, detak jantung, dan mendengar setiap suara yang ada di sekitar kita. Lalu, pada saat berjalan, kita pun bisa merasakan irama langkah kita, merasakan lantai atau tanah yang kita injak. Kita bisa meningkatkan penyadaran kita dan mengobservasi jalan pikiran dan perasaan dan menerima keberadaannya dengan kesadaran.

Ketika kita terbiasa melakukan kebiasaan-kebiasaan ini, kita menjadi lebih sadar terhadap the present moment yang sedang kita lalui. Kita bisa memperkuat sense of space di dalam diri kita. Dan, bila hal ini sudah rutin dilakukan, kita akan merasakan kebebasan berpikir, dengan keheningan di dalam diri kita, dan akibatnya kita juga menjadi lebih tenang dengan pikiran yang jernih. Dengan kekuatan kesadaran ini, kita tidak cepat menjatuhkan vonis baik-buruk pada gejala tertentu. Kita bisa menyerap situasi lebih lengkap dan menyeluruh, tanpa terburu-buru untuk berpendapat.

Kesimpulan yang terlalu cepat sering merugikan. Sering menyebabkan amarah yang tidak perlu, membuat penyesalan di kemudian hari. Jadi, sebelum memasuki jam kerja, peringatkan diri bahwa kita perlu menunjang tujuan perusahaan atau institusi dan kita pun perlu mengarahkan reaksi-reaksi sejalan dengan tujuan tersebut. Buatlah ringkasan mengenai apa yang sudah kita kerjakan dengan tuntas. Biasakan mengkaji kegiatan per hari. Biasakan membaca buku atau bacaan yang tidak berkaitan dengan pekerjaan saja, tetapi justru melatih emosi kita.

Keuntungan yang paling besar dari mindfulness ini adalah bahwa kita akan lebih menghargai kehidupan, napas kita. A person who is highly attentive and mindful tends to find that all of life’s activities become more fulfilling.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 12 Januari 2019.