“Mentoring”, Perlukah di Era Digital?

Banyak pengetahuan bisa kita dapatkan dari dalam dan luar lembaga pendidikan, baik secara online maupun offline. Apa pun latar belakang pendidikannya, anak muda sekarang dapat mempelajari beragam ilmu baru dengan cepat melalui beragam media yang bisa mereka dapatkan secara mudah. Inilah dampak positif era digital, informasi menjadi begitu mudah dan murah. Kesuksesan berwirausaha pun bisa diraih dalam usia yang relatif muda. Pertanyaannya, apakah teman-teman yang muda ini tidak butuh bimbingan dari yang lebih tua?

Para tokoh dunia internet, seperti Mark Zuckerberg, Larry Page dari Google, dan Marc Benioff dari Salesforce ternyata menganggap bahwa mereka tidak akan sesukses sekarang bila mereka tidak mengenal Steve Jobs dan Don Graham, pemimpin Redaksi Washington Post. Mark Zuckerberg mengungkapkan, bahwa tanpa mereka, ia tidak akan tumbuh menjadi pemimpin. Oprah Winfrey, sosok terkenal yang demikian mandiri juga mengatakan, “A mentor is someone who allows you to see the hope inside yourself.”

Kita lihat bahwa tokoh-tokoh cemerlang ini ternyata semua pernah mendapatkan bimbingan dari seorang mentor yang mengantarkannya menuju sukses. Demikian juga pengakuan tokoh-tokoh digital millenial kita. Mengapa orang-orang yang tergolong jenius ini masih membutuhkan mentor? Apa yang kurang dari kapasitas mereka sendiri? Di lain pihak, mengapa program mentoring di perusahaan tidak pernah dianggap sebagai prioritas utama, kadang hanya hangat untuk sementara waktu kemudian melempem lagi seolah tidak menjadi bagian dari core business?

Di era sekarang, saat jabatan manajer bahkan direktur bisa dicapai dalam usia yang relatif lebih muda dibanding generasi sebelumnya, terasa ada beberapa hal yang hilang. Hal-hal ini yang terkadang dipandang sepele oleh banyak orang, seperti tata krama, kemampuan menjaga emosi, cara mengajukan pendapat dan masih banyak lagi, sering hanya menjadi bahan keluhan, tetapi tidak diselesaikan. Di sinilah sebenarnya justru program mentoring bisa masuk untuk menggarapnya.

Seorang eksekutif muda yang super cemerlang sudah mencapai tingkat “partner” di perusahaan konsultan tempat ia bekerja. Ia terkenal ambisius dan tidak mengenal lelah. Ia bahkan jarang berada di rumahnya selama satu minggu penuh. Dari luar tampaknya ia baik-baik saja, tetapi setelah bertukar pikiran sebentar, langsung terasa bahwa ia sebenarnya sangat membutuhkan panutan dari mereka yang pernah berada di jalur kariernya. Ia ingin mengetahui bagaimana mengatasi ketakutannya akan kegagalan, kapan ia boleh menghentikan upaya yang penuh ambisi ini, sampai pada bagaimana mengerem kinerjanya. Individu seperti ini sangat membutuhkan seorang mentor, yang kurang lebih bisa merasakan apa yang ia rasakan.

Perusahaan-perusahaan yang jeli dan sadar akan kebutuhan ini melakukan program mentoring dengan serius. Jeff Bezos contohnya, selalu memasangkan milenial terbaiknya dengan para senior yang ahli di bidangnya, untuk sebisa mungkin mengerjakan proyek bersama. Kedua belah pihak sama-sama bisa belajar. Yang muda mendapatkan keluasan pengetahuan si mentor, sementara si mentor belajar banyak dari si mentee tentang fleksibilitasnya serta bagaimana mereka melihat masa depan.

Karakteristik seorang mentor

Tidak semua orang yang sudah senior bisa menjadi mentor. Hanya para senior yang mempunyai daya observasi yang tajam dan mampu bersikap selfless-lah yang tepat menjadi mentor. Para mentor yang otomatis sudah lebih lama berada di perusahaan dan sudah mengalami suka duka di perusahaan, pasti kaya akan informasi dan pengetahuan mengenai beragam hal di perusahaan itu, baik yang terlihat secara kasat mata, maupun yang terasa samar-samar. Mereka yang sudah makan asam garam ini pasti pernah membuat kesalahan, yang bisa menjadi pelajaran sangat berharga bagi rekan-rekan juniornya.

Pengalaman mentor yang sudah pernah jatuh bangun akan membuat mentee lebih buy in karena memiliki pengalaman nyata untuk tidak takut bouncing back dan bagaimana mereka bisa sukses dalam berkarier. Dengan rasa percaya yang dibangun secara bertahap, seorang mentor bisa berperan sebagai tembok sandaran yang bersuara bagi menteenya, ajang curhat yang bisa pula menghidupkan kemampuan refleksi para mentee. Hal yang juga sangat penting adalah network yang sudah dimiliki oleh para mentor ini, baik di internal maupun luar perusahaan, akan bisa membantu mentee untuk berhubungan dengan pihak-pihak lain yang bukan hanya rekan kerjanya.

Sebetulnya, karakteristik di atas bisa dimiliki oleh hampir semua orang di perusahaan. Hanya, sering kali mereka tidak menyadarinya. Inilah sebabnya, program mentoring harus dilaksanakan secara sadar dan merupakan prioritas nomor satu perusahaan.

Langkah-langkah mentoring yang efektif

Berbeda dengan proses coaching yang mengasah keterampilan teknis individu, mentoring lebih kepada menggarap nilai-nilai, prinsip, dan keyakinan menteenya. Ketertarikan mentee pada calon mentornya tentulah penting, entah karena reputasi ataupun kharisma. Dalam hal ini, mentor perlu terampil menceritakan pengalaman hidupnya yang menarik.

Kemudian perlu dilakukan kontrak lisan, di mana mentor akan menerangkan bahwa hubungan mereka lebih untuk berbagi pengalaman, sosialisasi, dan diskusi nilai-nilai profesi ketimbang pemecahan masalah. Mentor perlu berlatih mengajukan pertanyaan yang menggali prinsip, nilai dan sikap mentee, agar bisa memahami pola pikir mentee lebih dalam. Di sinilah kemudian, mentor dan mentee bisa bertukar pikiran mengenai pola pikir masing-masing, dan memasukkan disiplin-disiplin sesuai dengan nilai dan budaya organisasi.

Sering kali, kegiatan mentoring ini kurang berhasil karena banyak pasangan mentor mentee yang kemudian berfokus pada action, tindakan serta keputusan dan bukan kepada pola pikir. Padahal, pola pikir ini justru akan dengan sendirinya menentukan prestasi mentee di masa mendatang karena yang ditantang adalah keyakinan dan perilaku jangka panjangnya. Dalam era digital, di mana emosi, nilai, dan keyakinan akan menjadi fokus pengembangan utama, mentoring ini super penting.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 15 Desember 2018.