Future-Proof Mentality

Terkadang, kita hanya terpana mendengar atau membaca berita seperti: “Artificial Intelligence akan mengambil alih banyak kegiatan kita”, atau “Bekerja seumur hidup tidak berlaku lagi.” Juga: “Kebanyakan dari kita akan menjadi freelancer di tahun 2025.”

Berita-berita seperti ini seakan membuat kita helpless dan tidak tahu harus berbuat apa bila tidak berpikiran positif. Namun, bisakah kita hanya termangu dan tidak berbuat apa-apa? Apa yang bisa kita lakukan untuk bisa bertahan dan eksis pada masa depan?

Teknologi yang berkembang sedemikian pesat sudah mengubah cara kerja manusia. Hasil studi mengatakan, 50 persen dari pekerjaan memang bisa diambil alih oleh mesin ataupun diefisienkan oleh teknologi. Keterampilan baru seperti data science atau penguasaan digital disadari memang sangat penting, tetapi masih sedikit jumlah manusia yang menguasainya.

Sementara itu, banyak orang dengan keterampilan yang diajarkan di bangku sekolah konvensional merasa terancam menganggur. Pertanyaannya, apakah kita yang memang mendapat pendidikan gaya lama, perlu mempelajari teknologi atau ilmu-ilmu baru agar bisa mengikuti perkembangan jaman dan beradaptasi terhadap disrupsi yang sewaktu-waktu muncul? Ataukah ada jalan lain?

Pada tahun 2018 ini, laporan yang dikeluarkan Linked In justru menyatakan bahwa pelatihan yang paling banyak dibutuhkan oleh perusahaan-perusahaan adalah pelatihan softskills seperti kepemimpinan, komunikasi, dan kolaborasi. Apa artinya? Ternyata, kekuatan manusiawilah yang dibutuhkan ketika teknologi semakin maju dengan semua alat-alat digital ini.

Stretch

Ditulis oleh Karie Willyerd dan Barbara Mistick, buku Stretch sedikit membuka pikiran kita tentang bagaimana menyikapi masa depan di dunia yang berubah secara kilat ini. Bila kita lihat di kamus Oxford, kata “stretch” berarti kapabilitas untuk membuat diri lebih panjang, lebar, tetapi tanpa robek atau patah. Di dalam dunia olah raga, kita tidak pernah bisa meniadakan stretching. Sekuat apa pun seorang juara, ia tidak akan meninggalkan stretching. Tanpa stretching, otot menjadi tegang, kaku, dan pada akhirnya tidak bertenaga.

Secara mental, kita pun harus untuk meregangkan diri sejauh mungkin bila ingin survive pada masa depan yang serba tak jelas ini. Hal yang tampaknya sederhana ini tidak bisa dilakukan bila kita tidak dengan sengaja berlatih peregangan diri. Secara mental, kita perlu meregangkan cara kita belajar, bersikap terbuka dalam berpikir, membuka pergaulan dan pengalaman, serta meregangkan motivasi kita.

Ada tiga prinsip yang selalu perlu kita pegang untuk peregangan mental ini. Pertama, kita perlu menyadari bahwa kitalah subyek karier dan kehidupan, bukan orang apalagi alat-alat canggih di sekeliling kita. Kita tidak bisa bertahan pada apa yang kita sudah tahu dan sudah kita pelajari. Kita perlu membuka diri terhadap pelajaran dan pengalaman-pengalaman baru. Kita perlu siap membuang kebiasaan-kebiasaan lama.

Prinsip kedua yang perlu kita pegang adalah kita tidak pernah boleh terjebak pada pilihan tunggal. Kita harus selalu mempunyai rencana B atau C dan dengan keyakinan bahwa pilihan lain ini pasti bisa diimplementasikan. Tidak ada satu solusi yang sama bagi setiap keadaan. Oleh karena itu, kita perlu menjadi manusia yang rakus akan pengalaman sehingga kesempatan lebih terbuka dan kemungkinan untuk mendapatkan solusi menjadi lebih besar.

Prinsip ketiga adalah “my network is my net worth”, yaitu individu tidak bisa lagi menyepelekan pertemanan, hubungan interpersonal, karena dari hubungan inilah kreativitas, kesamaan tujuan, dan kolaborasi dihidupkan. Kita tidak bisa lagi bermental bounce back karena berdiri di tempat yang sudah tidak in lagi. Kita perlu bounce forward.

Untuk itu, kita perlu memiliki semangat ekstra yang tidak pernah boleh pudar, bahkan harus disertai kekuatan genjotan, memantul, dan menyembuhkan luka. Jauh sebelum masa ini, Steven Spielberg sudah bersikap demikian. Kegagalannya diterima di sekolah film USC tidak membuatnya kecut. Ia memulai kariernya tanpa gaji sebagai editor film di Universal Studio. Sekarang, nilai film-filmnya sudah lebih dari 10 miliar dollar AS.

Pahami diri dan belajar

“Be conscious of the unconscious”. Dengan rutinitas bekerja dan tuntutan berproduksi, kita sering tidak menyadari kekuatan dan kelemahan. Ungkapan Don’t be the best in the world at what you do. Be the only one in the world who does what you do, kita setujui. Namun, dalam hati kita katakan bahwa ini hanya tertuju pada mereka yang terpilih. Kita lupa bahwa kita bisa saja menjadi kunci dari suatu organisasi karena kemampuan kita yang khas, yang bisa berasal dari gabungan beberapa disiplin ilmu yang sudah terinternalisasi dalam diri kita.

Dari sini saja kita bisa terlihat menonjol karena tidak semua orang yang datang dari pendidikan yang sama mempunyai kombinasi kapasitas seperti ini. Untuk itu, dalam menghadapi masa depan yang serba gelap ini, kita setidaknya harus selalu terang dalam melihat diri sendiri, khususnya pada posisi kita dalam percaturan kompetensi yang dibutuhkan untuk menyambut kondisi baru pada masa depan.

Itulah sebabnya, hanya pembelajarlah yang akan bertahan di situasi disruptif masa depan ini. “In times of change, learners inherit the earth,” kata Eric Hoffer. Kegiatan belajar tidak berhenti setelah kita mengenyam pendidikan, bahkan sampai S-3 sekalipun. Kita juga tidak bisa duduk manis mengharapkan pekerjaan datang untuk digarap dengan keterampilan yang hanya kita dapatkan dari pendidikan. Kevin Kelly menyebutkan bahwa learning how to learn adalah keterampilan yang menjadi jawaban untuk menghadapi masa depan.

Mindset inilah yang perlu kita tanamkan untuk memperkuat dan melenturkan mental kita. Tidak hanya menghafalkan rumus-rumus jitu, tetapi juga kita perlu berlatih untuk memetik esensi informasi dari data yang jumlahnya hampir tidak terhingga dan think of the unthinkable.

Like the world and future of work — we’re constantly evolving.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 17 November 2018.