Re-invent

Terpilihnya Mahathir sebagai PM Malaysia yang baru cukup mengejutkan banyak orang. Ketika banyak orang di organisasi yang merasa diri sulit bersaing dengan generasi di bawahnya, bersiap-siap untuk mundur dan menikmati pensiun dengan mengemong cucu dan berkonsentrasi pada kesehatannya, sosok berusia 92 tahun ini justru masih tampil dengan pemikiran yang masih jernih untuk membuat strategi politik.

Ia mengatakan, ”Saya akan menyarankan orang untuk tidak beristirahat ketika mereka menjadi tua. Karena jika beristirahat, Anda akan segera menjadi sangat lemah, tidak mampu dan mungkin menjadi pikun. Jadilah aktif setelah Anda mencapai usia pensiun.” Namun, sosok seperti Mahathir ini memang kasus yang bisa dikatakan langka dan sangat istimewa.

Tidak perlu menjadi seperti Mahathir, potensi 13 persen penduduk Indonesia yang sudah berusia di atas 56 tahun ini sebenarnya masih besar sekali. Teman saya justru memulai profesinya sebagai pengajar bahasa Inggris anak anak SD di pelosok daerah ketika ia memasuki usia 60 tahun, ketika anak-anaknya sudah menikah dan tidak perlu diurus lagi.

Reda Gaudiamo, selepas pensiun dini sebagai profesional di bidang kehumasan salah satu perusahaan kontraktor minyak terbesar, malah meneruskan kegemarannya bernyanyi secara serius bersama mitranya, Ari Malibu. Sekarang Reda sedang menggalakkan kegiatan menulisnya. Bahkan, dengan dukungan British Council, ia akan hadir dalam London Book Fair. Ia juga tengah mempersiapkan album solonya, sepeninggal Ari yang meninggal beberapa bulan lalu. Reda beranggapan bahwa dalam jalur kehidupannya ia memang biasa melakukan reinvention berkali-kali.

Ravenna Helson, seorang profesor psikologi di University of California, melakukan penelitian terhadap 120 orang di atas 50 tahun. Beliau menemukan bahwa kepribadian pun bisa berubah pada usia 60–70-an. Pada usia yang sudah mantap, kita bisa belajar untuk lebih banyak memberi, lebih banyak mengakui bahwa pemikiran kita yang dulu sudah mulai usang, melakukan hal-hal yang berdampak lebih besar, dan lebih siap gagal agar bisa belajar lagi. Usia seharusnya tidak menjadi isu ketika energi difokuskan untuk berkarya.

Kurva-kurva S baru

Mengambil istilah dari dunia matematika dalam bisnis, kita sering menggunakan kurva S untuk menggambarkan efektivitas penjualan suatu produk.

Pada awalnya kurva berjalan datar, lalu menanjak curam di bagian tengah, kemudian kembali datar, dan selanjutnya menurun, alias mulai tidak laku. Karier ataupun jalur hidup manusia juga bisa dianalogikan dengan kurva S ini. Namun, yang perlu kita ingat, kurva S bisa diikuti oleh kurva S yang lain, yang bisa dimulai ketika kurva S pertama sedang berada pada masa puncaknya.

Sebelum produk pertama mengalami penurunan, produk baru sudah dimulai dan siap untuk menanjak. Tidak hanya satu, kita bahkan bisa membuat beberapa kurva S baru seperti yang dilakukan oleh Reda. Hal yang sulit dilakukan oleh kita pada umumnya adalah berusaha untuk keluar dari zona nyaman, melompat ke samping, dan memulai sesuatu yang baru.

Kita sudah sadar bahwa kita harus me-reset hidup kita, tetapi memulainya terkadang tidak mudah. “Reinvention” tidak sama dengan perubahan. Reinvention memang memuat serentetan perubahan, tetapi perubahan saja belum tentu merupakan reinvention. Reinvention membutuhkan komitmen yang kuat karena sering membutuhkan transformasi total, melibatkan pergeseran mindset dan perubahan pada keadaan fisik, karier, spiritualitas, hubungan, dan gaya hidup.

Ada proses reinvention yang dilakukan atas inisiatif sendiri, tetapi ada juga yang dilakukan sebagai reaksi terhadap situasi tertentu. Misalnya, perubahan pasar yang drastis bisa membangkitkan inisiatif bagi individu untuk mengganti jalur bisnisnya, ketika ia merasa bahwa business model-nya ternyata tidak pas dengan pasar yang dihadapinya. Pada saat itu, orang bisa tiba-tiba berenergi untuk melompat dan bangkit memulai sesuatu yang baru.

Ada juga orang yang sudah bosan dengan rutinitas, tiba-tiba melihat kemungkinan mendatangkan keceriaan dan bahkan mata pencaharian, ketika melakukan sesuatu yang digemarinya. Ada juga individu yang mengalami musibah, kehilangan pasangan atau sandaran hidupnya, justru bisa bangkit dan melakukan hal yang sebelumnya bahkan tidak terbayangkan olehnya.

Ini juga membuktikan bahwa orang sering mengabaikan intangible assets-nya. Bakat terpendam, hobi yang bisa dikomersialkan, teman yang merupakan network berharga, sering tidak disadari sebagai aset yang sangat berharga. Hal inilah yang perlu direfleksikan individu dengan baik. Jangan sampai kita terbawa dengan turunnya irama hidup kita, tertarik oleh gravitasi, sampai merasa bahwa kita tidak bisa bangkit kembali.

“The struggle”

Kita tentunya bertanya-tanya, apa yang hebat dari individu yang bisa memancangkan garis start pada usia yang bukan usia belajar lagi. Sebenarnya banyak orang yang mempunyai pemikiran untuk memulai sesuatu. Namun, tidak banyak orang yang mengeksekusi ide-idenya sehingga mencapai suatu hasil. Kita tidak akan mendapatkan sesuatu dari sekadar mencetuskan ide. Keuntungan dari adanya ide adalah bila ide tersebut menjadi kenyataan. Jadi, tagline Nike: Just do it, itu sangat besar artinya.

“The ever-shifting self”

Kehendak, motivasi, dan energi yang harus digenjot terus pada individu untuk mencapai keberhasilan memang tidak mudah. Banyak kekuatan psikologis yang bekerja melawan keinginan untuk maju ini. Kita juga perlu melakukan introspeksi dengan cermat agar tahu kapan harus memacu diri untuk jalan terus, kapan harus paham bahwa jalan yang diambil salah dan kita harus cepat-cepat melakukan putaran balik.

Tidak kalah pentingnya adalah untuk belajar mengambil tanggung jawab penuh atas diri kita, kuat dalam refleksi diri, lebih tabah dan lebih terorganisasi. Jadi, tidak ada hal yang bisa menyetop perkembangan kita, apalagi sekadar usia.

“Great things are done when men and mountains meet.” William Blake

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 3 November 2018.