Love Your Job

Ungkapan “Do what you love, and you’ll never work another day in your life”  pasti disetujui semua orang. Namun, ketika kita bertanya kepada orang di sekitar kita, apakah ia mencintai pekerjaannya, bisa-bisa kita sampai pada kesimpulan bahwa ungkapan ini teori belaka. Bahkan, orang yang tidak merasa mencintai pekerjaannya bisa menjadi minder atau merasa bersalah.

Memang ada orang-orang yang bekerja melampaui apa yang diharapkan karena begitu bersemangat dan menyukai pekerjaannya.  Seorang food blogger yang tekun menuliskan komentar mengenai makanan yang  dicicipinya bisa mendapatkan mata pencaharian dari kecintaannya pada dunia kuliner ketika ia diminta oleh restoran untuk me-review makanan mereka. Namun, apakah mereka tidak pernah memiliki saat-saat ingin pergi dari pekerjaannya?

Dalam bekerja kita tentunya mengalami pasang surut. Ada hari-hari baik, ada pula hari-hari kelabu. Pada saat itu kita bisa berpikir, “Adakah pekerjaan di luar sana yang lebih cocok untuk saya?”. Namun,  sebelum mengambil langkah drastis, baiknya kita berpikir, apakah pekerjaan yang dirasa akan lebih cocok itu tidak akan memberikan permasalahan, seperti kesulitan, kebosanan, dan hal-hal tidak menyenangkan lainnya?

Seorang teman yang keluar dari perusahaannya karena merasa bahwa ia tidak bisa berkembang di sana, banyak idenya yang tidak diterima, ternyata menemui kenyataan bahwa membangun bisnis impiannya sendiri malah jauh lebih challenging.

Klien yang sering kali banyak maunya dan harus ia hadapi sendirian, anak buah yang tampak kurang bersemangat dalam bekerja padahal ia merasa sudah memberikan apa yang mereka mau sampai mengurusi perintilan hal keuangan dan administratif yang dahulu tidak pernah harus ia pedulikan.  Mungkin teman kita ini lupa menghayati bahwa kerja itu memang ada suka dukanya.

Kerja itu bukan bermain

 Bisa mencintai pekerjaan itu memang sangat ideal. Para konsultan karier juga sering menganjurkan untuk “follow your heart.” Namun, apakah hal ini mudah dilaksanakan? Adakah pekerjaan yang benar-benar bisa membuat kita serasa liburan di Bali terus-menerus? Benar bahwa kita bisa mencintai pekerjaan yang menjadi mata pencaharian kita, tetapi pekerjaan tetap pekerjaan bukan?

Kita benar-benar perlu memisahkan antara kegiatan bekerja dan bermain. Ini dua hal yang berbeda. Bisa saja saya menyukai pekerjaan dan mata pencaharian saya, tetapi dalam bekerja pasti ada deadline, target sampai administrasi yang harus kita kerjakan juga.

Tidak mungkin hanya bergaul, makan dengan teman, dan berhura-hura tanpa tujuan. Seorang party planner pun meskipun terlihat menjalani pekerjaan yang penuh hura-hura tentunya tidak lepas dari ini semua. Ia harus jungkir balik berpikir kreatif untuk menemukan ide-ide pesta yang baru bila ingin tetap berada di top of mind pasarnya, serta bekerja keras memastikan setiap detail terlaksana dengan baik sehingga pelanggannya mendapatkan pesta yang sempurna. Semua kegiatan yang tidak menyenangkan ini termasuk dalam upah atau gaji yang kita terima.

Teman saya, Tomas, bassist dari band Gigi, sangat menikmati bermain bass selama lebih dari 25 tahun ini. Pernahkah kita membayangkan berapa jam yang dia gunakan untuk menjaga ketrampilannya bermain bass? Pernahkah kita melihat kulit tangannya yang menebal karena menekan senar setiap hari?

Buat Tomas, bermain musik adalah kerja keras. Sebenarnya, kita bekerja bukan untuk bersenang-senang saja, tetapi juga demi mata pencaharian kita. Kita bukan sekedar ingin bekerja, tetapi kita butuh pekerjaan. Yang justru tidak boleh kita lupakan adalah kenyataan bahwa biasanya kita justru bekerja ekstra keras sehingga lebih lelah pada pekerjaan kita cintai. Tekanannya bahkan bisa lebih berat karena kita memiliki ikatan emosional di sana.

Mencari vitalitas dalam pekerjaan

Jadi jelas, bekerja memiliki konsekuensi yang berbeda dengan bermain. Dalam bekerja kita mempunyai cara, hasil, dan peran. Bila kita tidak tahu bagaimana menyukai pekerjaan kita, kita sebenarnya bisa memecah aspek-aspek dalam bekerja itu dalam beberapa bagian. Kita bisa berfokus pada cara kita menyelesaikan pekerjaan, membuatnya sangat berkualitas, efisien ataupun efektif. Bila kita berhasil, kita menemukan kepuasan karena telah mencurahkan energi kita dan melakukan yang terbaik yang bisa kita kerahkan.

Kita juga bisa berfokus pada hasil. Bila kita menyelesaikan pekerjaan kita, kita bisa mengacu pada impact yang kita buat, kita bisa melihat berapa besar kemajuan yang sudah kita alami. Kita juga perlu menghayati dan menguasai seluk beluk pekerjaan kita untuk bisa menjalankan peran kita di sana dengan baik. Dengan begitu, kita bisa menikmati bahkan memperluas dan membantu teman kerja yang memerlukan.

Semua upaya ini bisa membuat pekerjaan yang kita lakukan menjadi sumber kenikmatan kita dan membuat ‘mood’ kita menjadi positif. Inikah yang dinamakan “passion”? Bisa iya bisa tidak, atau bisa juga sebagian. Yang penting hal-hal ini tidak boleh membuat kita tegang, dan menambah beban kita.

How well do you do the job?

Hal yang sebetulnya paling bisa dinikmati dalam kerja adalah keberhasilan. Terkadang kita berhasil mencapai batas waktu yang ditentukan. Atau kita bisa menyelesaikan keluhan pelanggan yang rewel. Ataupun, memenuhi permintaan klien kita yang awalnya terasa impossible. Passionate about the job…no. Passionate about how well I did the job…yes.

Jadi, sebetulnya bila kita mengerjakan pekerjaan dengan sempurna, keuntungan utama justru dirasakan oleh diri kita sendiri. Dan orang yang sukses akan mendapat kesempatan untuk tidak berkutat pada pekerjaan yang sama terus. Ia pasti mempunyai kesempatan lebih besar dan lebih luas lagi.

Bagaimana bila passion kita jauh dari pekerjaan kita? Perlu kita sadari passion justru bukanlah prasyarat. Ia tumbuh ketika kita bekerja keras dan menuai keberhasilan dari pekerjaan kita. Semakin kita berkutat dengan suatu hal, menjadi trampil dan menuai keberhasilan, semakin besar kecintaan kita terhadap hal tersebut, witing tresno jalaran soko kulino. Jadi, If you can’t be in the job you love… Love the job you’re in (or the way you do it). It will make EVERY JOB much more enjoyable and rewarding.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 27 Oktober 2018