Tren Kerja Masa Kini

Saat ini, globalisasi sudah menjadi makanan sehari-hari. Kita sudah tidak kikuk lagi bepergian ke luar negeri. Kita pun bisa mendapat berita dunia secara real time dari tempat duduk kita saat ini. Globalisasi memang membuat cakrawala kita meluas. Namun, di sisi lain juga menuntut peningkatan kapabilitas dan daya adaptasi kita dengan lebih cepat.

Tenaga kerja di mana pun harus siap bekerja dengan rekan yang mungkin belum pernah ia temui dan belum dikenal latar belakangnya. Tekanan untuk berprestasi juga meningkat dan bahkan terus bertambah. Sebelum tahun 1980, perusahaan-perusahaan dengan tenang bisa mengeluarkan produk baru setahun sekali karena perkembangan pasar yang bisa diperhitungkan dengan baik. Kompetisi ada, tetapi tidak chaos seperti sekarang. Globalisasi ini sudah menciptakan ever-increasing pressure to perform. Produk yang sama dijual di mana-mana, dengan harga semurah-murahnya, bisa bersaing di pelayanan, bisa dimodifikasi sedikit, bisa juga dicontek habis-habisan. Di sinilah kita tahu tidak mungkin bisa terlena dan merasa puas dengan pencapaian yang sudah ada.

Dengan ledakan kemajuan teknologi, keberadaan “mobile knowledge workers” yang aktif bekerja meski pun tidak di kantor juga semakin menjamur. Menekuni komputer dan rapat-rapat serius bisa dikerjakan di mana-mana. Alat komunikasi yang semakin canggih membuat pelaksanaan bisa dikendalikan secara remote. Aplikasi terjemahan secara real time semakin meminimalisasi kendala bahasa. Terkadang campur tangan manusia dalam keputusan pun banyak tergantung mesin yang disebut sebagai Artificial Intelligence. Kita semua menyadari bahwa Big Data demikian berharga dan masing-masing mempunyai tantangan untuk menganalisis menjadi data yang dapat dimanfaatkan. Kolaborasi antarperusahaan, antardisiplin ilmu sudah tidak asing lagi sehingga banyak komunitas yang tumbuh subur memperkuat pendalaman pengetahuan kita.

Para mileniallah yang paling terpengaruh dengan kemajuan teknologi ini. Kita lihat para pekerja muda ini mempunyai gaya dan mindset yang berbeda. Mereka lebih family oriented, mementingkan work life balanced. Mereka pasti tech savvy, menggunakan teknologi untuk memudahkan pekerjaan dan termotivasi untuk tampil di media sosial. Richard Branson si jagoan Virgin Air pun mengatakan, “Too many companies are too keen to put multitudes of rules and regulations on their staff. Not only does this stifle flexibility, it suggests a lack of confidence in your team to do their jobs as efficiently and effectively as possible. Give your people freedom to be independent, and your business will reap the rewards.”

Tampaknya, dengan kemajuan teknologi ini dunia kerja sudah lebih nyaman. Pertanyaannya, apakah kita sudah bekerja efektif? Mungkinkah kita tidak menjalankan disiplin tertentu, untuk bertemu dan membahas hal penting yang harus melibatkan ekspresi emosi dan perdebatan secara tatap muka?

Kembali ke kantor

Banyak orang yang mengira bahwa bekerja secara remote akan sedemikian trendinya sampai tidak dibutuhkan lagi kantor-kantor yang besar. Ternyata, studi mengatakan sebaliknya, bahwa hal yang paling dibutuhkan di masa mendatang adalah interaksi sesama manusia. Perusahaan-perusahaan besar tetap akan mempromosikan ruang kerja, agar hubungan interpersonal antarkaryawan, antar divisi berjalan lancar. Hal ini penting karena semua orang percaya bahwa kerja tanpa emosi hanya menghasilkan setengah dari kinerja yang sesungguhnya.

IBM misalnya, sudah menyetop remote working program-nya dan mengumandangkan kampanye back to the office. Fasilitas kompleks perkantoran inovatif dari Apple dirancang sedemikian menariknya sehingga para pekerja secara sukarela datang ke kantor dan berkomunikasi satu sama lain. Betapa besar usaha para pemimpin perusahaan, bahkan sampai menyediakan fasilitas olahraga bukan sekadar fitness center tetapi juga arena olahraga outdoor. Google merancang kantor yang bernuansa kafe sehingga membuat suasana yang lebih nyaman. Perusahaan-perusahaan ini berkeyakinan bahwa bertemunya karyawan secara fisik dalam lingkungan bisnis, akan merangsang kreativitas dan hubungan baik, yang kesemuanya akan menghasilkan hal-hal yang positif.

Studi terbaru mengatakan bahwa diskusi tatap muka di antara para pekerja meningkatkan produktivitas sebanyak 20 persen. Studi lain juga menemukan bahwa 72 persen pegawai yang mempunyai teman baik di tempat kerja akan merasa lebih puas dengan pekerjaannya. Jadi, sebenarnya, penelitian tidak menunjukkan bahwa milenial ini hanya mau bekerja secara online. Mereka pun ternyata lebih suka bertatap muka bila sedang mengerjakan hal yang serius. Teknologi memang bisa membuat kerja lebih efisien, jalur komunikasi lebih lancar, tetapi diskusi tatap muka tetap memiliki keunggulan efektivitas. Peneliti mengatakan bahwa diskusi tatap muka ekuivalen dengan 3-4 email bolak-balik. Jadi, walaupun program-program telecommuting tetap ada, sebaiknya tidak menjadi fokus dalam membangun kultur perusahaan terkini.

Belajar, belajar, belajar

Bila pertemuan tatap muka sangat diperlukan dalam pengambilan keputusan, pemecahan masalah dan pembuatan strategi, sebaliknya kegiatan belajar tidak mungkin menunggu pembelajaran tatap muka saja. Sarana belajar mandiri sudah demikian menjamurnya. Pengalaman dan pembelajaran seorang kandidat karyawan tidak lagi difokuskan ke pendidikan formal saja, tetapi juga dalam spektrum yang lebih luas.

Skill gap antara kebutuhan terkini dan apa yang tersedia sudah semakin besar sehingga banyak perusahaan kesulitan menemukan karyawan yang siap pakai dan sesuai dengan tuntutan pelanggan. Dengan berkembangnya Artificial Intelligence, di mana perusahaan seperti Google, Facebook, Amazon, Microsoft, Apple berlomba-lomba untuk memanfaatkannya sebanyak mungkin, tak ada pilihan selain memutakhirkan pengetahuan mengenai kebutuhan pelanggan dan bagaimana memenuhinya melalui teknologi. Belajar harus dilakukan setiap saat, dengan segala cara yang memungkinkan.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 7 Juli 2018.