Ciri-ciri Teman Kantor yang Frenemy

Persaingan adalah hal lumrah dalam perjalanan suatu karier. Selama persaingan dilakukan dengan cara yang sehat tak masalah. Namun, ada kalanya kita bekerja bersama seorang frenemy alias friend yang bersikap sebagai enemy. Ya teman, ya juga jadi musuh. Diam-diam menggerogoti karier kita.

Frenemy sering menunjukkan sikap manis di depan kita. Namun, setelah kita balik kanan, ia bisa saja langsung menghunus “pedang”. Berkata yang pahit-pahit. Melalui buku The Essentials of Being Fabulous, Ellen Lubin-Sherman mengungkap sembilan ciri rekan kerja yang berpotensi menjadi frenemy. Berikut beberapa di antaranya seperti dikutip kembali oleh Chic.

Ciri pertama, good news is a bad news. Jika kita mendapat pujian dari bos atau dipercaya untuk menjalankan suatu proyek prestisius, frenemy akan menganggap itu sebagai ancaman. Ia akan menunjukkan mimik wajah atau gestur yang tak nyaman sekalipun dibalut senyuman. Frenemy juga berusaha mengganti topik pembicaraan tatkala kabar bagus itu berembus padanya.

Ciri kedua, frenemy cenderung mendorong kita untuk mengundurkan diri dari perusahaan. Modusnya dengan menguarkan kabar burung yang menjelek-jelekkan atasan atau perusahaan. Tujuannya agar setelah kita keluar, ia tak lagi memiliki pesaing.

Ciri ketiga, ketidakpekaan terhadap situasi. Jika kita tengah dirundung masalah, frenemy justru mengumbar cerita-cerita tentang karyawan yang dipecat karena kasus yang mirip dengan apa yang kita alami. Tujuannya agar mental kita kian jatuh dan akhirnya mengundurkan diri.

Ciri selanjutnya, frenemy acap memberikan pujian dengan tujuan untuk menjatuhkan. Memuji untuk menjatuhkan. Saat kita datang ke kantor dengan potongan rambut baru misalnya, dia akan bilang, “Kamu cantik waktu rambutmu masih pendek.” Maksudnya, agar kita menjadi tak percaya diri dengan penampilan kita.

Gemar melempar kesalahan juga menjadi kekhasan frenemy. Masalah selalu ada jalan keluarnya, tapi di tangan seorang frenemy, masalah akan dibuatnya makin runyam. Dia kemudian akan berusaha menjadikan kita sebagai tersangka atas segala persoalan.

Frenemy juga doyan merongrong impian kita. Jika kita berbagi tentang cita-cita kepadanya, bukannya mendukung, frenemy malah akan membuat impian patah di tengah jalan. Dia akan mengobral kata-kata yang terkesan masuk akal, tapi sesungguhnya ia sedang berusaha membunuh semangat kita untuk meraih mimpi. [*]