Pemimpin Milenial

Apa pendapat Anda mengenai para milenial? Sudah demikian banyak tulisan yang dipublikasikan baik secara formal maupun informal mengenai kaum milenial ini. Kebanyakan bernada pesimistis dengan berbagai label seperti generasi yang instan, malas, banyak menuntut, over PD, sulit diatur dan masih banyak lagi.

Stereotip yang belum jelas buktinya ini sering disetujui oleh mereka yang kebetulan mempunyai pengalaman yang tidak menggembirakan dengan para milenial. Alhasil, kesenjangan antargenerasi menjadi lebih besar. Namun, kita sering lupa bahwa pada 2025 (yang sebentar lagi di depan mata), sebanyak 75 persen dari tenaga kerja akan terdiri atas para milenial dan dunia pastinya akan dikuasai oleh pemimpin muda yang mungkin memiliki gaya berbeda.

Mungkin memang ada milenial seperti yang digambarkan di atas sehingga stereotip tersebut muncul. Namun, kita juga bisa menyaksikan anak muda seperti Tsamara Amany yang berani terjun ke dunia politik di usia yang masih sangat belia. Padahal, generasi di atasnya dulu pada usia yang sama mungkin masih sibuk dengan buku, pesta, dan cinta.

Dari bicaranya, kita bisa menyaksikan bahwa anak muda ini mempunyai potensi kepemimpinan yang sangat kuat. Di dunia bisnis kita melihat bagaimana supremasi Tokopedia yang dibangun dan dikembangkan oleh William Tanuwijaya, yang tidak kalah visi dan pemahaman bisnisnya dari para senior, bahkan para pemegang sahamnya. Rex Marindo, pemilik Warung Upnormal, memulai debutnya dari warung yang memodifikasi hidangan yang berbasis mi instan, makanan para mahasiswa anak kos, sampai menjadi restoran bertaraf internasional. Tidak mungkin usaha-usaha ini berkembang demikian pesat bila mereka adalah pemimpin childish seperti yang banyak digambarkan orang. Atau mungkin mereka ini memang berbeda dengan para pendahulunya, para gen X dan baby boomers?

Ciri khas pemimpin milenial

Dari beberapa literatur, kita bisa mempelajari bebarapa keunggulan tertentu pada kelompok milenial yang sudah menjadi pemimpin. Yang jelas, para pemimpin milenial ini mayoritas sudah menggunakan teknologi dalam menjalankan kegiatan/bisnisnya. Tidak ada pemimpin milenial yang tidak tech savvy. Bahkan teknologi sudah tidak terpisahkan lagi dalam perusahaan atau lembaga yang mereka pimpin.

Drive atau rasa lapar akan kesuksesan pun demikian besar. Kita perlu sadar bahwa generasi milenial sudah tidak dibesarkan di zaman keemasan ekonomi. Banyak di antara mereka hidup dengan anggaran yang pas-pasan. Justru inilah yang membuat mereka suka bekerja keras dan banyak menginspirasi teman kerjanya. Bagi mereka kultur bekerja keras tidak sulit ditularkan pada teman-temannya karena mereka juga tidak menginginkan birokrasi dan segala macam formalitas yang tampaknya hanya menghambat gerak organisasi.

Inovasi adalah napas organisasi yang mereka pimpin dan hal ini bukan monopoli atasan atau pimpinan saja. Inovasi menjadi tuntutan bagi semua individu. Ini juga dilatarbelakangi oleh transparansi yang menjadi kultur utama perusahaan. Para milenial sejak lahir sudah dibesarkan dalam dunia yang tidak mapan. Oleh karena itu, mereka memang sudah terbiasa dengan perubahan.

Bila kolaborasi di masa kita dianggap sebagai upaya yang keras dan harus dipaksakan, saat ini para milenial melakukannya dengan spontan. Napas organisasi memang adalah kolaborasi. Mereka percaya dan menghargai multi perspektif, sementara banyak di antara kita yang masih menganut faham monopoli, eksklusivitas, dan mengotak-kotakkan pasar ataupun keahlian. Jadi, mungkin kita yang masih mau beroperasi dan berada bersama dengan para milenial ini perlu juga mengubah perspektif kita karena generasi yang terlihat sekadar having fun ini sebenarnya menganut nilai, keyakinan, dan ke-PD-an baru yang perlu kita perhitungkan.

Bukan kepemimpinan tradisional lagi

Kita semua tahu bahwa para senior biasanya unggul dalam pengalaman di industri dan jam terbang teknis yang membekali mereka dengan wisdom-wisdom. Inilah yang sering membuat para senior gemas menghadapi generasi muda. Namun, kita juga perlu memperhitungkan bahwa di zaman yang sudah berubah, di mana banyak tenaga dan pengetahuan manusia tergantikan oleh mesin, ada kekuatan-kekuatan lain yang akan menunjang para pemimpin milenial ini.

Hasil penelitian mengatakan bahwa dibandingkan dengan generasi yang lebih senior, para milenial lebih unggul dalam komunikasi dan pembinaan hubungan interpersonal. Beberapa pemimpin milenial yang sudah berhasil, mengungkapkan bahwa mereka banyak belajar secara online, sesi-sesi sharing dan selalu mempunyai mentor tempat bertanya dan berdiskusi. Mereka juga sangat terbuka dengan umpan balik. Mereka percaya umpan balik adalah pembelajaran yang sangat berharga untuk pengembangan. Ini juga sebabnya mereka lebih mudah menerima mentorship. Tidak heran bila organisasi yang dipimpin para milenial ini tampak fleksibel dan senantiasa berubah.

Bagaimana hidup harmonis dengan para pemimpin milenial?

Seorang pemimpin milenial pernah menyatakan kepada seniornya, “I want a clear understanding of what success looks like to you.” Penyamaan visi ini perlu kita lakukan sedini mungkin dengan mereka. Para pemimpin milenial melihat masa depan dengan kacamata yang sangat berbeda dari kacamata para seniornya. Dengan meluapnya informasi, bukan hanya informasi mengenai teknologi yang bisa diakses, tetapi refleksi mengenai kemanusiaan juga banyak tersedia dan terbaca oleh mereka.

Hal yang lumayan menjadi kejutan adalah bahwa para milenial ini ternyata lebih mementingkan kemanusiaan. “I’m an individual, not a number.” Yang paling penting kita ingat bila kita menghendaki engagement adalah bahwa engagement terjadi antara individu yang satu dengan individu lainnya. Oleh karena itu, terlepas dari perbedaan usia, kita harus mendalami mereka secara individual. Melihat kenyataan di atas, tampaknya kitalah yang perlu mengubah mindset dan kacamata, agar kita pun bisa banyak belajar dari para milenial. Hanya inilah cara kita untuk menutup kesenjangan antargenerasi.

Eileen Rachman & Emilia Jakob

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 2 Juni 2018.