Learning in a VUCA Era

Keadaan sekarang di mana situasi diwarnai kompleksitas dan pada akhirnya menuntut tua dan muda untuk belajar dengan cara yang cepat, membuat pimpinan perusahaan dan dunia pendidikan cukup pusing. Hal itu karena perbandingan antara waktu pembelajaran dan materi yang harus dipelajari tidak seimbang. Belum lagi, dengan percepatan teknologi, hal yang baru saja selesai dipelajari bisa-bisa sudah mulai usang karena sudah tumbuh kebutuhan akan keterampilan yang lebih baru.

Kita harus menggunakan metode pembelajaran yang lain. Bila tidak, keterampilan yang kita punya akan selalu “ketinggalan kereta”. Ambil contoh keterampilan menganalisis data. Big data yang dipunyai perusahaan perlu dianalisis oleh seorang yang mempunyai campuran keterampilan matematik, statistik, tingkah laku manusia, dan ilmu komputer. Sekarang, di seluruh dunia, ahli data sangat dibutuhkan, tetapi pasokan tenaga ahli campuran ini sangat minim. Jadi, keterampilan yang dibutuhkan juga semakin kompleks.

Metode pembelajaran konvensional selalu percaya bahwa kemampuan individu harus dilatih secara berurutan. Contohnya, seorang petenis perlu terampil forehand-nya terlebih dahulu baru beralih ke backhand, kemudian serve. Para ahli pembelajaran menyebut metode ini sebagai metode blocking berpola AAABBBCCC, yaitu mem-block pembelajaran lain dan fokus pada ketrampilan tertentu. Metode ini paling mudah dan simpel dilakukan. Sampai sekarang pun kita masih mengalami sistem pembelajaran seperti ini. Bisa kita bayangkan betapa ketinggalannya kita dalam pesatnya perkembangan teknologi dan media sosial seperti sekarang ini.

Kita memerlukan cara untuk mempelajari ketrampilan yang kompleks. Banyak orang percaya pada “practice makes perfect” dan sudah melakukannya. Namun sekarang, sistem pembelajaran yang diterapkan perlu dibuat dengan cara lebih mengombinasi gaya dan cara belajar secara simultan. Bahkan, para ahli sekarang mengatakan bahwa metode campuran ini membuat otak bekerja lebih keras dalam mendapatkan informasi, berpikir lebih strategis dan terlatih membuat solusi yang lebih kontekstual.

Dalam esainya yang berjudul “The Interleaving Effect: Mixing It Up Boosts Learning”, Steven C Pan menyatakan bahwa pembelajaran fleksibel harus dimulai sejak dini. Itulah sebabnya penggunaan berbagai bahasa dalam pendidikan sangat dianjurkan. Jadi, menggunakan metode ABCABCABC. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode ini menghasilkan diagnosis kedokteran yang lebih akurat, para mahasiswa ilmu hukum bisa menyelesaikan kasus legal yang lebih kompleks, juga membantu para mahasiswa untuk menyelesaikan soal matematika dengan lebih cepat dan baik. Bahkan, hasilnya lebih kuat dan bertahan lebih lama. Mengapa demikian?

Dengan bercampurnya informasi yang harus diolah, otak terlatih untuk membedakan konsep dan berusaha mondar-mandir mencari informasi. Dengan metode lama, urat syaraf menjadi kaku  dan tidak terbiasa lincah bergerak ke sana-ke mari. Apalagi di masa kreativitas dan inovasi menjadi tuntutan zaman, otak yang lincah mencari berbagai solusilah yang perlu dikembangkan.

Melihat big picture

Masih ingat permainan monopoli yang melatih kita melihat posisi kita dan posisi lawan secara jelas? Taktik berwirausaha pun terlatih sekaligus. Pengalaman menghadapi unpredictable juga dimainkan di situ. Karena perkembangan profesi secara mendalam, kita bisa terperangkap dengan berpikir terkotak-kotak. Terkadang, kita tidak sempat melihat keadaan dari kacamata yang lebih jauh.. Karyawan yang memahami strategi perusahaan dan mengerti arah perusahaan biasanya lebih tahu dan terdorong untuk mencapai sasarannya. Kita tahu cerita klasik tentang tukang batu, bukan? “The first man, ‘I’m laying bricks.’ The second man replied, ‘I’m putting up a wall.’ But the third man said, enthusiastically and with pride, ‘I’m building a cathedral.

Jelas, pemahaman mengenai big picture lembaga atau perusahaan akan membawa ke kinerja yang lebih baik. Namun terkadang, individu dalam organisasi tidak bisa mendapatkan pesan dari manajemen puncaknya atau tidak terlatih melihat visi perusahaan secara menyeluruh. Di sinilah ‘gamification’ bisa membantu individu.

Gamification: the future learning

Mengacu pada keberadaan permainan monopoli, simulasi pilot, dan berbagai praktik pembelajaran yang tidak bersifat ‘paper and pencil’, kita melihat bahwa permainan ini bukan penemuan baru, bahkan sudah digunakan berabad-abad. Namun, dengan keadaan yang sulit diterka ini, gamicication tampaknya bisa menjadi solusi pembelajaran.

Sudah sekitar 15 tahun EXPERD menerapkan kegiatan simulasi sebagai bagian utama dari pelatihan dan assessment. Dalam assessment kita mengenal roleplaying yang dibuat semakin kompleks dan riil sehingga individu yang sedang diteropong kompetensinya terpaksa masuk dalam  situasinya, berusaha mendapatkan gambaran keseluruhan, dan mencari solusi dari situasi yang kompleks.

Dalam pelatihan EXPERD sudah hampir tidak lagi meggunakan metode kuliah satu arah. Simulasi yang memudahkan imajinasi, belajar dari kesalahan strategi, mendapat umpan balik dari kerja tim, dari pihak eksternal dan dari teman sendiri serta mendapatkan logika dari jalannya bisnis, menjadi warna dalam setiap pelatihan. Hal-hal tersebut penting dibuat perencanaannya dengan memperhitungkan segala aspeknya. Ini semua bisa dimudahkan bila kita melakukan simulasi yang mengimitasi situasi yang sesungguhnya di dalam bisnis.

Secara manusiawi, kemampuan kita untuk bermain sangat powerful. Games memenuhi kebutuhan manusia untuk merasa sukses, kompeten, mandiri, dan belajar dari kesalahannya. Games memperkenalkan rasa bebas memilih dan bertanggung jawab atas akibat perbuatan kita. Games adalah alibi interaksi kita. Itulah sebabnya kebanyakan dari kita yang sudah pernah melakukannya belajar banyak dari pengalaman ini, terutama dalam keterampilan bisnis, seperti business acumen, kewirausahaan, sinergi, perencanaan, serta eksekusinya.

“Experd Games and simulations can get close to reality, and create engagement and motivation – leading to people being more receptive to learning.”  Demikian komentar salah satu peserta pelatihan EXPERD.

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 6 Januari 2018

 

Eileen Rachman
EXPERD
CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

www.experd.com