Humanitas di Dunia Digital

Media sosial dan kemajuan teknologi “mobile” mau tidak mau sudah mengubah cara kita berinteraksi. Teman saya di usianya yang menjelang 80 tahun tiba-tiba rajin bereuni, selalu memelototi gadget-nya dan terkadang tertawa terbahak-bahak sendiri. Inilah kenyataannya, media sosial menjadi interface baru antara pikiran manusia dengan dunia.

Orang tidak perlu menunggu surat balasan sampai berhari-hari bahkan berminggu-minggu untuk mendapat balasan dari pacar, pasangan, ataupun pelanggan. Kita sekarang mampu bercerita, berceramah dengan pesan-pesan yang terbatas dalam 140 karakter, dan merasa puas dengan ungkapan emosi yang lucu-lucu. Apa artinya ini semua?

Bisakah kita tidak berpartisipasi dengan perkembangan teknologi ini? Bukankah lama-kelamaan kita menganggap bahwa penggunaan media digital ini sebagai bentuk survival kita? Betapa tidak, kita bisa mempunyai akses ke mana saja secara instan. Anak yang sedang belajar nun jauh di luar kota pun bisa kita monitor keberadaannya, dan kita ajak berkomunikasi kapan saja. Situasi ini adalah terobosan yang tidak bisa dihindari lagi.

Namun, pernahkah kita memikirkan dampaknya yang cukup signifikan terhadap budaya kita? Bukankah kita sendiri merasa bahwa budaya tradisional sudah pelan-pelan kita abaikan atas nama kemajuan zaman? Katakanlah silaturahim, memberi selamat, dan bermaaf-maafan yang kita lakukan secara elektronik, yang sering kita anggap sudah cukup.

Akibatnya, ketika bertemu muka pun kita tidak lagi merasa butuh untuk saling bersalaman dan menikmati interaksi lagi. Kalau Plato pada zamannya mengeluh bahwa buku bisa menyebabkan manusia bermental malas, bagaimana bila ia hidup di zaman sekarang? Sebegitu hambarkah kehidupan sosial kita?

Kehidupan yang penuh interaksi, saat media bisa hadir di ruang tidur, ruang makan, ruang rapat, dan ruang publik, ternyata tidak selalu membuat hidup kita terisi dan bermakna. Namun, cara berkomunikasi seperti ini sudah menggejala di mana-mana.

Para politisi, seperti Obama, menggunakan media sebagai alat kampanye. Para pendidik dipaksa untuk menciptakan e-learning, dan harus memikirkan MOOC (massive open online courses) tanpa memperhitungkan bahwa belajar dengan passion dan interaksi nyata itu akan berbeda hasilnya dibandingkan dengan belajar lewat layar kaca semata. Revolusi ke-4 ini memang sudah terjadi, dan tidak ada jalan lain bagi kita untuk menyikapi keadaan ini.

Era digital tantangan manusia modern

Semaju-majunya teknologi, ternyata kebutuhan untuk memahami manusia semakin meningkat. Dalam sebuah pertemuan terkait media sosial yang dihadiri oleh para pakar teknologi, diskusi akhirnya mengerucut pada human experience yang tetap menjadi dasar pembuatan aplikasi.

Jadi, di samping kekaguman kita pada kecanggihan mesin ini, tetap saja isi benak manusia, yang adalah pelanggan, menjadi target utamanya. Mau tidak mau teknologi yang berkembang haruslah semakin manusiawi.

Sebagai contoh, Siri di perangkat Apple yang berusaha keras menyelipkan humor di dalam jawaban-jawabannya. Demikian pula Google yang berusaha membedah dan menyajikan data-data detail terkait berbagai aspek kepribadian manusia agar mereka bisa semakin relevan dengan kebutuhan pelanggannya. Dari kenyataan-kenyataan ini bukankah kita semakin yakin bahwa mesin memang semakin canggih, tetapi manusia sebagai makhluk tertinggi ciptaan Tuhan, memang tidak pernah terkalahkan?

Siapa yang bisa mengalahkan otonomi individual manusia? Mesin mana yang bisa membangun rasa percaya? Siapa yang bisa menghasilkan algoritma rasa suka atau tidak suka? Masih ingat film Her tentang kisah cinta seorang pria dengan sebuah perangkat lunak yang menyerupai wanita yang utuh? Walaupun kecanggihan hubungan itu digambarkan dengan detail dalam film, pada akhirnya sang pria jatuh cinta pada manusia juga.

Hal itu membuktikan bahwa kita memang bisa mengasah kemanusiaan kita, tanpa harus menghindari perkembangan teknologi. Bahkan, sistem pemasaran yang paling trendi saat ini adalah word of mouth dan pendekatan komunitas. Mungkin, sepuluh tahun lagi mesin-mesin cerdas ini akan mampu menggantikan fungsi-fungsi pemasaran ini, tetapi yang jelas tidak sekarang.

Peran aspek kemanusiaan

Dengan adanya kecenderungan kita untuk bergaul dengan mesin lebih lama dari 4–5 jam sehari, tantangan kita adalah apakah kita mau membangun kultur “machine centered” atau kita bisa tetap mempertahankan kultur “human centered”. Ingat bahwa kita memang makhluk sosial yang memang diciptakan untuk berinteraksi.

Kita mempunyai pilihan apakah terhanyut pada keyakinan bahwa inteligensi buatan bisa menguasai dunia atau bersikeras mengembangkan terus otonomi kita sebagai manusia. Hal yang paling penting kita lakukan dalam proses kognitif adalah menemukan konteks dari suatu gejala yang menyangkut semua aspek, yaitu fisik, emosional, kognitif, politik, ekonomi, interpersonal, dan sosial.

Sebagai manusia kita tidak memerlukan algoritma untuk memersepsi secara kontekstual. Tinggal apakah kita mau berfikir lebih keras, mengeksplorasi lebih luas, mendengar lebih saksama, mengingat, dan memprosesnya di dalam rasio kita? Kita juga tidak pernah boleh lupa

bahwa yang bisa menanamkan kepercayaan itu hanyalah manusia.

Untuk itu, kita tetap perlu mengembangkan jejaring sosial yang didasarkan pada kepercayaan. Jaringan sosial inipun tidak bisa digantikan mesin.  “If there’s one thing our swelling collective articulacy as a species brings home, it’s that people care above all about other people: what they think, do, believe, fear, hate, love, laugh at–and what we can make together.”–Tom Chatfield.

Eileen Rachman & Billy Latuputty
EXPERD
CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

experd

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 30 Desember 2017