Appreciative Leadership

Betapa seringnya kita berseminar, berlokakarya mengenai kepemimpinan yang efektif. Kita sudah melihat Sri Mulyani, Jokowi, dan Susi Pudjiastuti yang dapat diacungi jempol.

Banyak teori kepemimpinan, seperti Great Man Theory, Trait Theory, Behavior Theory, dan Transformational Theory, yang sangat bergantung pada karakteristik seorang pemimpin.

Hal ini tanpa disadari meningkatkan derajat si pemimpin dan membangkitkan ketergantungan pada arahan pemimpin. Namun, bukankah kita percaya bahwa kinerja yang lebih ber-ímpact adalah bila dalam sebuah kelompok, semua anggotanya berkinerja optimal, berinisiatif, dan gembira?

Kita membutuhkan resep atau formula yang tepat untuk mengembangkan para pemimpin, yang mampu mengajak timnya mencapai hasil yang besar dan signifikan. Tidak sekadar membicarakan karakteristik yang menonjolnya dari sang pemimpin, tetapi bagaimana ia berinteraksi dengan lingkungannya, baik bawahan, maupun orang yang bersinggungan dengan kelompoknya.

Teman saya, yang sekarang ini menjabat sebagai Dekan Fakultas Psikologi Universitas Indonesia, Dr Tjut Rifameutia MA Psikolog, tidak pernah menjadi seorang yang sangat populer di kalangan pergaulan.

Mungkin karena ia adalah sosok yang lebih low profile dan rendah hati. Tidak ada seorang pun yang menyangkali kebaikan hatinya dan tidak ada seorang pun yang mempunyai pengalaman yang tidak menyenangkan bila berhubungan dengannya. Saat sudah menjabat sebagai dekan, perlahan tetapi pasti prestasinya menonjol secara signifikan.

Di bawah kepemimpinannya tiba-tiba semua acara pengukuhan, Dies Natalis, berganti warna, menjadi acara yang ceria dan menarik. Belum pernah terjadi gelombang alumni ‘pulang’ ke kampus dan aktif membantu seperti yang terjadi sekarang ini.

Setiap angkatan alumni pun berlomba-lomba untuk memberi ide dan bahkan melaksanakan perbaikan bagi kampus tercinta mereka. Hubungan dengan kelompok-kelompok profesi pun diakrabkan.

Demikian pula kerja sama dengan lembaga-lembaga pemerintah lain digalakkan. Ketika saya bertanya kepada beliau tentang resep kepemimpinannya, dengan rendah hati ia menjawab, “Rasanya saya tidak buat sesuatu yang gimana… gitu… Mbak.. Saya hanya selalu menyampaikan pentingnya bekerja sama.”

Bukankah kepemimpinan Tia (panggilan akrab Bu Dekan ini) adalah yang sering kita sebut dengan strength-based leadership? Di sini memang ditumbuhkan spirit bahwa sang pemimpin seolah-olah tidak terlalu penting dibandingkan dengan atmosfer yang dibawanya. Ia pun berhasil mengupayakan potensi positif pada setiap staf dan organisasi. Hierarki dibuat tidak penting di fakultas sekarang ini, dan partisipasi semua orang sangat terasa di semua kegiatan. Sebagai hasil akhirnya, lembaga ini terlihat menjadi dinamis, berkeinginan untuk membuat perubahan, bekerja sama dan berinovasi. Tia sangat yakin bahwa setiap orang dalam timnya bersedia untuk mengejar visi masa depan yang diinginkan, dan bekerja keras untuk hal itu.

 Leading with positivity

Seorang yang disebut sebagai pemimpin yang apresiatif secara aktif mengundang orang lain untuk berbagi pendapat, perasaan, dan cerita serta ide-ide untuk masa depan. Ia dengan penuh keyakinan mengembangkan organisasi sedemikian rupa sehingga orang merasa diberdayakan untuk mengambil keputusan, mengambil risiko, dan juga termotivasi untuk belajar. Kelompok menjadi berani bereksperimen dan berinovasi.

Tugas pemimpin seolah-olah menyalakan lampu-lampu kapasitas yang masih padam. Kekuatan masing-masing individu inilah yang dikenali oleh pemimpin apresiatif dan kemudian bisa terpancar dengan baik. Pemimpin ini selalu awas terhadap what works di kalangan para bawahannya. Di sinilah ia memfokuskan perhatiannya. Di samping itu, ia pun bisa menyatukan dan mengombinasikan kekuatan individu satu dengan yang lain sehingga membentuk sinergi yang berkekuatan ekstra.

Seorang pemimpin apresiatif kuat dalam menghargai keberbedaan dan mampu bekerja dalam suasana multikultural, multigenerasi, dan multitalenta. Pemimpin menghargai anggota kelompok dan kontribusi mereka. Ia melakukannya dengan cara meminta orang untuk membagikan pemikiran mereka, kisah sukses, atau gagasan mereka untuk masa depan.

Pemimpin kemudian mendengarkan dengan tulus apa yang mereka katakan, Di sinilah kita bisa menyaksikan munculnya realitas-realitas baru yang segar yang teranyam dari hubungan interpersonal yang lebih hangat. Proses inklusi yang diciptakan ini membuat orang tidak segan-segan melakukan brainstorming dan tergerak untuk melakukan perbaikan terus-menerus.

Di sinilah mekanisme inspirasi bertumbuh. Berbagi ceritera, visi, pengalaman sukses maupun gagal membuat setiap individu lebih berani salah dan bereksperimen, sehingga kehidupan organisasi menjadi lebih sehat.

Pemimpin yang apresiatif mampu mendorong timnya untuk menemukan kekuatannya yang unik dan membantu untuk memaksimalkan aktualisasinya. Pemimpin ini mampu mentransformasi bakat mentah menjadi hasil nyata yang positif. Hal ini terjadi ketika para pemimpin mampu menyelidik dan menemukan kekuatan setiap individu.

Ia mampu merasakan hal positif yang melekat dalam diri seseorang. Dampak akhir dari upaya penggalian potensi individu ini pada akhirnya akan berdampak pada pertumbuhan dan penguatan integritas tiap individu.

Setiap orang lebih berani memilih dan memutuskan strategi maupun langkahnya berdasarkan apa yang dinilai terbaik olehnya. Peter Drucker pernah mengatakan, “The ageless essence of leadership is to create an alignment of strengths in ways which make a system’s weaknesses irrelevant.”

 Eileen Rachman & Billy Latuputty

EXPERD

CHARACTER BUILDING ASSESSMENT & TRAINING

 

Artikel ini terbit di Harian Kompas edisi 17 September 2017